fbpx

Catatan Hidup di Singapura #3 : membangun karir di Singapura

Reading Time: 4 minutes
membangun karir di Singapura

Kawasan Perumahan Mewah di Holland Road, Singapura

“Hah!? Tina baru saja resign? Yang benar saja!” Aku spontan menyeletuk penuh keheranan di saat meeting pagi bersama seperti rutinitas biasanya.

Tina itu adalah seorang perempuan yang lebih tua lima tahun dariku, Dia mulai bekerja di perusahaan ini tiga bulan lebih awal dariku. Posisinya cukup lumayan, seorang Purchasing Manager dan juga cukup dekat dengan istri Pak Iman, Bu Cindy.

Mungkin juga sih Tina tidak bisa menahan diri lagi mengikuti kemauan serba nyentrik pasangan Pak Iman dan Bu Cindy. Tina itu sudah berpengalaman, pasti tidak susah kok untuk mendapatkan pekerjaan berikutnya. Di awal-awal kehadiranku di perusahana ini, Tina pernah bercerita kepadaku bahwa dia tidak akan pulang sebelum berhasil membangun karir di Singapura.

Oh ya, pasti kalian bertanya-tanya, bagaimana denganku? Apa kabarku?

Tak terasa, dua bulan berlalu, pekerjaanku pun tidak semudah yang kubayangkan.

Imajinasi kerja di kantor dihempas sejuknya air conditioner (AC) sudah mulai buyar setiap kulihat sekelilingku. Alat-alat kerja kecil seperti obeng, kunci inggris, palu hingga yang berukuran besar seperti mesin las adalah objek-objek yang harus kuhadapi setiap harinya.

Habitatku bukan di kawasan perkantoran, melainkan di sebuah pabrik yang terletak di Tuas, sebuah area reklamasi di bagian Barat kota Singapura.

membangun karir di Singapura

Pabrik di Tuas, Singapore

Melihat kota Johor Bahru, Malaysia dari kejauhan sudah menjadi makanan pagiku dalam perjalanan ke kantor.

Oh ya, untuk yang belum tahu, Tuas itu terletak di perbatasan antara Singapura dan Malaysia yang hanya dipisahkan oleh Selat Johor. Aku pernah berbagi tentang perjalanan pulang hari dari Singapura ke Johor Bahru, Malaysia di Instagram Story-ku juga.

Jembatan Perbatasan Malaysia dan Singapura dari Tuas

Jembatan Perbatasan Malaysia dan Singapura dari Tuas

Menuju Checkpoint Perbatasan Malaysia dan Singapura dari Tuas

Menuju Checkpoint Perbatasan Malaysia dan Singapura dari Tuas

Yah, inilah sebuah kenyataan yang harus kutelan demi impianku membangun karir di Singapura. Tidak banyak pilihan yang bisa kuakses.

Dua bulan terakhir ini sering banget aku menghela napas, semua alat-alat kerja yang sudah kuhitung dan kurapihkan selalu berakhir dengan berserakan di lantai. Buruh-buruh dari Bangladesh ini seperti susah diberi tahu.

Papan peringatan dan memo penjelasan di setiap sela kabinet alat-alat kerja yang kubuat seperti tidak pernah ada bagi  mereka.

Tanggung jawabku bervariasi mulai dari membeli spareparts mesin dan tools yang dibutuhkan pabrik supaya bisa berjalan lancar, hingga memastikan kebersihan dan tata letak peralatan selalu rapih.

Bahu membahu bersama Guo Liang, teman sekamarku yang juga merupakan kepala pabrik, kita berdua berusaha memberikan yang terbaik supaya pabrik bisa beroperasi tanpa mengalami masalah.

Yang menjadi hiburan bagiku adalah SMS dari Ibu Negara yang selalu muncul tepat waktu. Isi pesannya selalu mengingatkanku untuk tidak lupa makan siang dan banyak minum air putih. Kadang jika aku punya waktu lebih, kuhidupkan laptop jadul berukuran 15 inci dan berukuran raksasa itu supaya bisa berkomunikasi lebih hemat dengan Ibu Negara melalui Yahoo Messenger.

Belum ada Whatsapp di periode itu, Facebook pun masih malu-malu untuk eksis ke permukaan.

Jadi walau dengan keterbatasan teknologi yang kami punyai, kami terus berkomunikasi.

Setiap harinya.

==

Malam itu, selesai makan malam di rumah Pak Iman, tak lama dari pijakan pertamaku di atas anak tangga yang terhubung ke lantai dua tersebut; suara plastik bergesekkan tidak berhenti. Oh, ternyata itu Tina sedang membereskan barang-barangnya dan hendak keluar dari rumah Pak Iman.

Secara spontan, aku membuka pembicaraan.

“Hey! Sudah lulus ya kamu? Siapa yang bikin kamu resign? Baru juga sebentar kerja disini, kenapa mau cabut?” Tanpa kusadari, aku sudah membombardir Tina dengan pertanyaan ala interogasi polisi.

Tina melihatku sambil mengangkat alisnya dan menghela napas. Kedua tangannya tidak berhenti memasukkan baju-baju kantor miliknya ke dalam kemasan plastik transparan itu.

Memang boleh dibilang aku dan Tina tidak begitu dekat, pertama karena dia begitu dekat dengan Lady Boss (Istri Pak Iman). Bahkan boleh dibilang sudah menjadi tangan kanannya. Aneh kan, Tina punya semuanya untuk lebih jauh membangun karir di Singapura.

“Itu gara-gara si Bapak. Seperti ada dua jiwa di dalam tubuhnya. Nggak tahan lah gue nge-deal dengan dia.” tiba-tiba Tina memecah keheningan.

“Nanti lo juga tahu pokoknya. Bu Cindy juga nggak bisa ngapa-ngapain waktu gue ditegur kayak orang gila kemarin. Gue pikir dia bisa pasang badan belain gue, ternyata memang semua orang disini tetap tunduk sama Pak Iman.” lanjut Tina sambil mencari-cari kepala restleting koper dan menutupnya.

membangun karir di Singapura

Persiapan Tina keluar dari rumah Pak Iman

Sambil menyenderkan kopernya ke tembok, Tina mengambil kertas tiket pesawatnya. “Hmm, oke besok Terminal Satu, jam dua belas lima belas.”

“Gan, pokoknya lo hati-hati ya. Disini nggak ada yang bisa lo percaya. Dari Raja dan Ratu sampai si Diana, selir Ratu satunya.”

Masih belum puas, Tina menyambung, “Lo tau kan si Diana? Cewek itu juga otak di balik semua ini, jago banget dia aktingnya.”

“Jangan sampai lo kena juga sama dia. Di depan lo, dia ramah deh orangnya. Di belakang lo, nama baik lo disayat-sayat sama dia di depan Bos.” lanjut Tina.

Aku tak bisa berkomentar banyak, karena sejauh ini Pak Iman masih baik-baik saja kepadaku. Cerita Tina masih terngiang-ngiang di telingaku memberikan sejuta pertanyaan. Tapi keegoisanku seakan menepikan cerita tidak mengenakkan Tina tersebut.

“Ah, itu kan Tina. Bukan Gue. Gue nggak akanlah dipecat, selama ini kan gue nggak bermasalah” Sangkalku.

Tapi sangkalan tersebut tidak bisa menimbun rasa penasaran akan wujud sebenarnya Pak Iman. Orang seperti apakah beliau. Kenapa Dia tidak seperti Pak Iman yang aku kenal. Kejadian Tina tersebut ditambah nyinyiran halus penuh misteri Mbak Ani dua bulan lalu mulai membentuk sebuah stigma di diriku tentang Pak Iman secara tidak kusadari.

“Oh shit!” pekikku. “Aku harus Yahoo Messenger Ibu Negara! Sudah jam segini!”

Tina pun tersenyum lepas, seakan menertawakan nasibnya dan juga jam sakral komunikasiku dengan Ibu Negara. Kami berpamitan dan aku mendukungnya untuk terus melompat lebih tinggi.

Itulah saat terakhirku melihat Tina di Singapura. Jangan tanya dan mengira-ngira ya, karena sampai sekarang aku sendiri pun tidak tahu dia ada dimana. Tapi aku yakin, dia masih mengenggam mimpinya membangun karir di Singapura.


Oh ya, untuk yang ketinggalan cerita sebelumnya, simak episode 1 dan episode 2 ya.

Dirgan Fasa Administrator
Dirgan Fasa Dirgan founded Casa Fasa as a place to share inspiration from his travels and to inspire others to see our world. He now split his time between adventures abroad and adventures in the 9-5 workspace!
follow me

2 thoughts on “Catatan Hidup di Singapura #3 : membangun karir di Singapura

  • Reply Timmy January 16, 2020 at 12:51 pm

    Selalu seru sih baca cerita kehidupan ko Dirgan di sg huahahhaa…

    • Reply Dirgan Fasa January 17, 2020 at 12:10 am

      Haloo Timmy. Makasih ya sudah terus mengikuti ceritanya hehhee

Leave a Reply