Singapura, Akhirnya Aku Datang!

Reading Time: 2 minutes
Please follow, share and like us:
Instagram
YouTube
YouTube
Whatsapp
GOOGLE
GOOGLE
Follow by Email
Pinterest
Pinterest
RSS

Singapura, Aku Datang!

Hidup di Singapura

Bulan Mei 2009, tak sampai seminggu sejak kuserahkan surat pengunduran diri itu ke mantan bosku, sebuah petualangan baru dalam hidupku akan segera dimulai.

Ibu Negara mencoba menutup restleting tas koper super besar berwarna coklat tua dengan susah payah. Pada akhirnya, jurus pamungkas menutup tas kopernya keluar juga. Pemandangan yang kerap kali kulihat sehari sebelum kami traveling: Ibu Negara menduduki koper, hingga mengempis, dan jepitan kuat dari jari telunjuk dan jempolnya menarik restleting sekuat mungkin.

“Gan, bantuin dong. Jangan cuma bengong lihatin aja.” Ibu Negara melotot heran kepadaku sambil terus berusaha menutup koper berukuran 32 inci tersebut.

Tatapanku itu bukan merupakan tatapan terpana akan kesigapan wanita yang sudah menemaniku sejak lama itu dalam memaksimalkan pengemasan koper, melainkan tatapan penuh harap supaya semua baik-baik saja ketika aku berkelana di negara lain.


“Oke, sudah waktunya untuk check-in nih. Aku jalan dulu ya.” Aku menarik keluar batang pegangan koper yang terlihat tidak seimbang karena penuh terisi semua peralatanku memulai hidup baru di Singapura.

Aku melihat sekeliling, Papa terlihat tegar, karena dia pun seorang pengembara dari Kalimantan. Mata Mamaku sudah becek oleh air mata, namun berusaha memberikan senyum sebagai tanda perpisahan. Masih sempatnya kuberikan wejangan ke kedua Adikku, untuk menjaga orang tuaku dan jangan menyusahkan mereka.

Mamanya Ibu Negara beserta kedua adik perempuannya juga hadir di tengah-tengah perpisahan ini. Memang saat itu kita belum resmi menjadi keluarga, tapi 5 tahun bersama mereka, kami sudah memiliki ikatan emosional yang luar biasa.

“Terima kasih sudah mengantar sampai disini ya. Aku masuk ke dalam,” pamitku.

Masih setengah tidak percaya, ini adalah sesuatu yang kuimpikan. Dan inilah harinya, Tuhan telah mengabulkannya. Namun kenapa seakan raga ini seakan berat melewati batas pemeriksaan paspor.

Sayup-sayup kudengar tangisan, ya itu isakan Ibu Negara.

“Gan, Jangan pergi. Gan Jangan pergi,” ulangnya.

“Don’t worry, You will be alright. Aku pasti sering balik kok. Tenang aja ya,” balasku untuk menenangkan Ibu Negara.


Gugup?

Panik?

Takut?

Tidak juga.

Pun nihil deras air mata yang mengalir di pipiku kala menerima pelukan terakhir dari Ibu Negara.

Aku tidak merasakan apa-apa. Sebagian dari diriku masih menolak untuk meninggalkan kehidupan di Jakarta, sebuah kota penuh warna yang menelan lebih dari dua puluh tahun hidupku bersamanya.

Baling-baling pesawat mulai berputar.

Tanda mengenakan sabuk pengaman sudah disuarakan oleh awak kabin.

Air mata dan kesedihan yang sejak tadi sangat malu-malu, kali ini meluap tak terkontrol.

Kerah kemeja putihku basah tersiram derasnya air mata. Untungnya sapu tangan yang sudah kusiapkan di kantong depan kemejaku mampu membendungnya.

Pramugari di lorong sedang berbincang dengan penumpang wanita berusia 30 tahunan di barisan depan. Dia berusaha keras meyakinkan penumpang tersebut untuk mematikan sambungan teleponnya.

Tiba-tiba, Layar handphone yang kuatur ke mode silent menyala.

Sebuah pesan SMS terakhir dari Ibu Negara yang selalu kuingat sebagai pembuka lembar hidupku selanjutnya di negeri seberang: “Gan, baik-baik yah disana. Jaga diri. Kamu pasti bisa. SKB”


Kalau kalian mau baca cerita selanjutnya tentang hari-hari awalku di Singapura, komentar ya di kolom komen.

Jika banyak yang mau tahu, nanti kubuat tulisannya 🙂

Dan untuk yang mau membaca tulisanku tentang Singapura, bisa dibaca disini

Dirgan Fasa Administrator
Dirgan Fasa Dirgan founded Casa Fasa as a place to share inspiration from his travels and to inspire others to see our world. He now split his time between adventures abroad and adventures in the 9-5 workspace!
follow me
Please follow, share and like us:
Instagram
YouTube
YouTube
Whatsapp
GOOGLE
GOOGLE
Follow by Email
Pinterest
Pinterest
RSS

6 thoughts on “Singapura, Akhirnya Aku Datang!

  • Reply Farida October 23, 2019 at 8:37 pm

    Terharuuu 😢😢.. penasaran dg story perjalanan, then daily life, untill get succes right now..☺☺

    • Reply Dirgan Fasa October 23, 2019 at 8:45 pm

      makasih ya Farida, masih berjuang disini dan mencoba menginspirasi teman-teman lainnya yang dari Indonesia

  • Reply Avie October 23, 2019 at 10:29 pm

    Iyaaa … Lanjot lanjot lanjottt…nanggung amat cm sampe pesawattt huwaaa

    • Reply Dirgan Fasa October 23, 2019 at 10:32 pm

      Hahaha baik nanti dibuat lanjutannya 😄🙏🙏

  • Reply Matius Teguh Nugroho October 28, 2019 at 11:06 am

    Aaaaaaaaargh gemeeeesss! nanggung, mas 😂😂😂

    Ini adalah fase tengah-tengah yang kurang menarik. Aku yakin pembaca lebih tertarik dengan detil proses mas Dirgan bisa pindah ke Singapura (tadinya kerja di mana, mengapa resign, mengapa memilih Singapura, perusahaan apa di Singapura) atau detil mas Dirgan mengisi hari-hari pertama di Singapura.

    Mas, kalau kamu mau nulis, then just write it! Nggak usah melulu minta voting pembaca kalo ujung-ujungnya kamu juga nggak memenuhi ekspektasi pembaca. This is not what I was expecting.

    • Reply Dirgan Fasa October 28, 2019 at 3:23 pm

      Siappp mas. Makasih sarannya 😄🙏🙏🙏

Leave a Reply

close

Enjoy this blog? Viralkan :)