SEBELUM KE GREAT OCEAN ROAD, BACA INI! – Part 2 (Selesai)

Reading Time: 5 minutes
Please follow, share and like us:
RSS
Whatsapp
Follow by Email
GOOGLE
GOOGLE
YouTube
Pinterest
Pinterest
Instagram

Yeah! Sudah masuk ke hari kedua kita menjelajah Great Ocean Road. Buat yang belum baca bagian pertamanya, check this out: GOR ala Fasa – part 1

Nggak ada suara ayam jantan yang berkokok, tapi mataku sudah terbuka lebar. Seketika tertuju tajam ke pintu kamar. Entah sudah untuk berapa kalinya ku terbangun dan melihat ke arah pintu. Meja bundar yang kutempelkan diantara pintu dan tembok masih tak bergerak.

Ya ini hanyalah rasa paranoid-ku, mohon salahkan Film “Vacancy” yang sudah meracuni otakku selama bertahun-tahun.

Untuk yang belum nonton, silahkan diintip trailernya di sini.

Okay, hari kedua di perjalanan kami menyusuri Great Ocean Road, kami memutuskan untuk mengubah arah jalan balik ke Melbourne melalui rute yang agak unik, yaitu melewati area peternakan dan perkebunan.


HARI 2

Hari 2 : Port Campbell >> Port Campbell National Park (Twelve Apostles) >> Colac >> Melbourne

Mengucapkan selamat tinggal tidak akan pernah mudah, apalagi ke sebuah tempat yang memberikanmu kedamaian walaupun hanya temporer. Kubiarkan mesin mobil menyala sambil “memanaskan” mesin, lalu kuajak Ibu Negara berjalan sampai ke ujung jetty. Port Campbell memang terkenal dengan penduduknya yang sangat gemar memancing. Tak heran, kurang dari jam tujuh pagi, sudah bisa kutemui dua hingga tiga pemancing duduk sabar menunggu kailnya digigit ikan.

G’Morning mates!

Port Campbell’s Jetty

Anak salah satu pemancing di Port Campbell, Victoria, Great Ocean Road

Anak salah satu pemancing di Port Campbell, Victoria, Great Ocean Road

One Last Shot, in Port Campbell, i promise!

One Last Shot, in Port Campbell, i promise!

Saatnya menjamah tempat yang sengaja kami lewatkan kemarin, Port Campbell National Park, yang merupakan sarang dari Twelve Apostles, simbol utama dari Great Ocean Road.

Perkiraanku tepat sekali, sekitar sepuluh menit dari Port Campbell, kuambil tikungan ke kiri, tanpa kesulitan langsung menemukan slot parkir. Enaknya kalau memakai itinerary yang kubuat ini, jalanan sangat-sangat sepi dari kerumunan pengunjung. Spot-spot cantik yang Instagram-Worthy bisa kamu maksimalkan banget!

No one down this road except us

Papan petunjuk Port Campbell National Park terpampang jelas dengan ukuran yang lumayan besar. Siapapun yang melihat walaupun dari kejauhan akan mengenalinya.

“Yes, this is it!” sahutku.

Twelve Apostles Entrance, Great Ocean Road

Twelve Apostles Entrance, Great Ocean Road

Be aware with this creature!

Port Campbell National Park adalah salah satu destinasi favorit bagi pengunjung local maupun mancanegara. Terletak di gugusan pesisir pantai, dengan luas 1,750 hektar yang diisi dengan semak-semak hijau dan pemandangan laut yang alami.

Tujuan utama kami adalah Twelve Apostles yang terletak di dalam kompleks National Park ini. Sebuah ikon yang tidak pernah dipisahkan dari “The Great Ocean Road”. Walaupun namanya “Twelve Apostles”, yang tersisa saat ini cuma tinggal “Eight” dari “Twelve”.

Twelve Apostles adalah barisan batu gamping atau batu kapur yang terbentuk dari proses erosi berkelanjutan sejak 10 sampai 20 juta tahun lalu. Hujan badai serta deburan ombak laut mengikis permukaan bongkahan besar batu gamping menjadi sejumplah tebing terpisah. Setiap tahun kira-kira 2 centimeter badan tebing akan terkikis akibat erosi, jadi kalau mau datang dan menikmati indahnya Twelve Apostles, buruan deh!

The stretch of Great Ocean Road

The stretch of Great Ocean Road

Saat terbaik untuk menikmati pemandangan Twelve Apostles yang sangat ajaib ini adalah saat sunrise atau sunset. Menikmati bagaimana mereka menunjukkan warna-warni berbeda seiring dengan perubahan warna langit yang merekah atau memudar.

Begitu sampai, dengan mengikuti jalur pejalan kaki yang sudah dibuat, kami diberikan pilihan, mengarah ke Twelve Apostles, ambil sebelah kanan. Atau ke kiri untuk ke Gibson Steps, yang sudah kami kunjungi di hari pertama kemarin.

Jadilah kami mengambil ke kanan, menyusuri jalan yang dikelilingi semak-semak di sebelah kiri kami. Jangan takut, semak-semaknya sudah berada lumayan jauh dari jalur pejalan kaki, dan dibatasi oleh balok kayu horisontal yang berfungsi sebagai pegangan tangan untuk yang takut ketinggian.

Dan..

Angin besar menyerbu wajahku. Badanku sedikit bergeser mundur. Bukan, bukan karena hempasan angin. Namun karena tertegun, tertegun oleh kemegahan alam yang tidak bisa kulukiskan dengan ketikan aksara.

“Nikmati saja, ya.” ujarku ke Ibu Negara.

Ya, kami berjalan sambil menatap Twelve Apostles, si primadona Great Ocean Road. Batinku bergumam gembira, “Yeah! Satu lagi tempat yang sudah bisa kucapai bersama Ibu Negara. Aku mau dia melihat semua tempat yang sudah pernah kulihat.”

Happiness is real when shared

Senyuman dan rasa takjub tak henti-hentinya keluar dari wajahnya, arghh.. Sungguh gembira sekali!
What a feeling!

The Magnificent Twelve Apostles

The Magnificent Twelve Apostles

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

One last peek before saying goodbye to Great Ocean Road

One last peek before saying goodbye to Great Ocean Road

Hampir dua jam kami berjalan-jalan santai, mulai banyak mobil van yang berdatangan. Pertanda kami harus segera berpindah tempat menuju lokasi selanjutnya dalam perjalanan kami kembali ke Melbourne.

Kami sempatkan mampir ke Visitors Office untuk melihat-lihat cinderamata untuk kami pajang di kulkas kami yang sudah penuh oleh magnet-magnet dari semua tempat-tempat yang kami kunjungi.

Namun, tidak ada yang pas, dan semua rata-rata sudah overpriced. Jadi Ibu Negara memutuskan untuk menjajal eskrim lokal. Rasa eskrim-nya okay juga, but not so outstanding. Yang paling penting sih ingredientsnya, terbuat dari bahan natural, nggak ada additives yang berbahaya.

Timboon – FINE ICE CREAM

It’s time to say goodbye to Twelve Apostles. One day, aku akan balik lagi bersama orang tuaku pastinya 🙂


Volume musik lagu K-Pop diperkencang oleh Ibu Negara.

“Kecilin oi! Emang aku budeg?!” komplainku.

“Siapa suruh itu mata mulai merem melek, ngantuk kan? Makanya suara lagunya dikencengin!” balas Ibu Negara.

Malas rasanya berargumen, karena memang aku yang salah. Masih belum mendapat kafein pagi ini. Bayangin aja, dua jam berjalan mengitari Port Campbell National Park lalu masuk ke daerah Colac, yang isinya didominasi oleh jerami-jerami warna coklat kekuningan di sekeliling.

Enak sih, berasa seperti di film Smallville, hidup di peternakan. Tapi aku kan bukan Tom Welling yang punya kemampuan Superman. Kecepatan maksimal yang bisa kupacu hanya 60km/jam, ditambah jalanan kosong dan di pedesaan pula. Hmm.. Siapa yang nggak ngantuk.

Beautiful Colac

Bermalam disini bukan hal yang buruk

Ah.. akhirnya bisa stop sebentar untuk menikmati segelas plastik kopi hangat di pomp bensin. Sekaligus mengisi bensin, meregangkan kaki dan menghirup aroma kopi sudah membuatku energize kembali!

Self-Service Gas Station

Colac, kota dengan populasi 12,000 penduduk yang memberikan sumbangsih besar kepada perekonomian negara bagian Victoria melalui sektor pertanian dan perkayuannya. Terhubung oleh jalan tol Princess Highway untuk mencapai kota Melbourne, cuma tinggal lurus saja ikuti jalan tol akan membawamu kesana.

Yeah, Melbourne.. I am coming back! Watch out!

The road lead us to Melbourne


Jemari Ibu Negara masih sibuk scrolling ke atas dan kebawah, lalu membuka tab-tab baru seperti mau mengafirmasikan kepada dirinya sendiri kalau foodtruck di Queen Victoria Market (QVM) yang berjualan American Donut itu super enak!

“Okay, jadi kamu mau itu kan? Ayo kita kesana. Nggak usah ke hotel dulu ya check in, kita langsung aja ke QVM.” ujarku.

Maka meluncurlah kita ke QVM. Being 2 days outside of Melbourne, melaju pelan di Great Ocean Road, benar-benar bikin refresh banget. Pikiranku segar dan seperti sudah diupgrade oleh perjalanan road trip kami.

It’s really good to escape for a while and hit back the real world with contented mind.

Untuk yang mau datang kemari, perhatikan jam operasional QVM, mereka tutup di hari Senin dan Rabu. Dan usahakan datang kemari sebelum jam dua siang, karena banyak toko yang sudah tutup jam dua siang pada hari Selasa dan Kamis. Untuk hari Jumat, Sabtu dan Minggu, jam kerjanya mulai dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

Nah QVM ini dibagi menjadi 3 kategori, yaitu fresh produce (sayur-sayuran, buah-buahan, keju, daging dll) , specialty items (designer shirts, souvenir, pajangan, perhiasan, hand made gifts, dll) dan area makanan dan minuman (street food, food truck dan restoran).

Dari tempat parkir, kami mengarah ke General Merchandise area, yang aku rekomen banget untuk belanja suvenir disini. Jangan di tempat lain, karena lebih murah disini dan kebanyakan barangnya sama-sama aja. Dan jangan lupa untuk TAWAR.

Bagi yang berilmu tawar-menawar tingkat dewa, pasti suka belanja disini. You can get more value with your bargaining skills.

General Merchandise Area, dan kualitasnya bagus bagus juga

Souvenir dengan banner “MASSIVE SALE”, merupakan pemandangan sehari-hari disini

Hampir jam dua siang, kami buru-buru berlari ke truk donat pilihan bu Negara.

Tapi..

The one and only American Doughnut

Sudah SOLD OUT!

Yahhh.. Cape deh..

Okay kita akan balik lagi besok-besok, secara kami masih punya banyak waktu di Melbourne.

Tenang aja, dia nggak akan kemana-mana. Cepat atau lambat kita pasti bisa menjajal donut itu hehehe.

Dengan gontai, aku menarik Ibu Negara untuk masuk ke area fresh produce, mengintip-intip hasil pertanian dan peternakan lokal Australia. Dan ternyata itu cukup untuk menyogok rasa kecewa Ibu Negara karena donut yang sudah habis terjual tadi.

Ibu Negara kan suka banget masak, jadi fresh produce area ini merupakan surga kecil baginya. Dan bagi kalian semua juga yang doyan masak atau doyan makan seperti aku. Hahaha.

Berbagai macam aneka keju ada disini

Ask about Gluten Free


Ah sudah menjelang sore, badan lumayan remuk karena dua hari non-stop nyetir. Kami memutuskan untuk segera check-in ke hotel dan beristirahat. Karena masih segudang tempat yang harus kamu kunjungi dan bagikan kepada kalian tentang keindahan negara bagian Victoria, Australia ini.

Jangan lupa Subscribe! Dan bagikan cerita ini via Whatsapp ya supaya banyak traveler lain yang terbantu 😀

Dirgan Fasa Author
Dirgan founded Casa Fasa as a place to share inspiration from his travels and to inspire others to see our world. He now split his time between adventures abroad and adventures in the 9-5 workspace!
follow me
Please follow, share and like us:
RSS
Whatsapp
Follow by Email
GOOGLE
GOOGLE
YouTube
Pinterest
Pinterest
Instagram

3 thoughts on “SEBELUM KE GREAT OCEAN ROAD, BACA INI! – Part 2 (Selesai)

  • Reply Dyah July 8, 2018 at 11:03 am

    Saya nggak pernah ke Australia, sih. Tapi maunya suatu saat nanti menjejakkan kaki ke sana. Tapi di sana belanja juga harus menawar? Aduh, di Jakarta – Solo – Bandung aja saya nggak pernah bisa nawar… Kurang sadis dan terlalu baik hati, soalnya.

    • Reply Dirgan Fasa July 9, 2018 at 3:15 pm

      hehe tawar menawarnya cuma di toko-toko suvenir atau cinderamata di Queen Victoria Market aja kok. Sisanya malah nggak bisa ditawar hehe. Sudah dibandrol harga..

  • Reply Yarra Valley, Australia: 3 Hal Unik yang bisa kamu lakukan di sini | Casa Fasa August 6, 2018 at 9:02 pm

    […] membahas tentang Great Ocean Road Trip di dua postingan sebelumnya disini dan ini. Aku mau berbagi cerita perjalananku ke Yarra Valley dan hal-hal unik apa aja sih yang kalian bisa […]

Leave a Reply

close

Enjoy this blog? Viralkan :)