SEBELUM KE GREAT OCEAN ROAD, BACA INI! – Part 1

Reading Time: 6 minutes
Please follow, share and like us:
RSS
Whatsapp
Follow by Email
GOOGLE
GOOGLE
YouTube
Pinterest
Pinterest
Instagram

Hari ketiga di Melbourne City yang selalu buat kangen ini dibuka dengan perjalanan menyusuri rute laut selatan yang sangat legendaris, yaitu The Great Ocean Road.

Great Ocean Road adalah sebuah rute di negara bagian Victoria yang terbentang sepanjang hampir 250km, dari kota peselancar Torquay hingga Portland.

Karena keterbatasan waktu, saya memutuskan untuk menggariskan garis finish road trip kami di Port Campbell. Setidaknya tempat-tempat tujuan utama kami sudah terkunjungi dan 70% rute di tepian laut lepas ini berhasil kami selesaikan.

Terdaftar sebagai salah satu rute road trip terbaik di dunia versi CNN.com, The Great Ocean Road menawarkan pemandangan laut tak yang tak pernah habis.

Rute yang tidak terlalu panjang ini sebenarnya bisa diselesaikan dalam waktu 4 jam saja (one-way) jika berkendara dengan kecepatan normal, tetapi sesuai dengan gaya traveling saya yang santai dan nggak mau diburu-buruin, kami menghabiskan waktu hampir dua kalinya.

Masih bareng Ibu Negara, yang baru pertama kali menjajaki pesisir Selatan benua Australia. Kami berangkat dari Melbourne sekitar pukul 8. Kenapa harus jam segini? Supaya bisa menghindari jam sibuknya spot-spot wisata sepanjang perjalanan kami.

Karena sudah pernah ikut tur day trip sebelumnya, saya paham akan jam-jam padat turis dan rute yang mereka ambil. Beberapa tempat yang saya rasa tidak terlalu penting, saya lewatkan dan sebagai gantinya saya mengalokasikan waktu lebih banyak di tempat-tempat yang asyik.

Berikut adalah rute Great Ocean Road (GOR) kami:

Hari 1 : Torquay >>  GOR’s Memorial Arch >> Lorne >> Lavers Hill >> Kennett River >> Gibson Steps >> Port Campbell

Hari 2 : Port Campbell >> Port Campbell National Park (Twelve Apostles) >> Colac  >> Melbourne


Hari 1

Dari Melbourne, kami mengarah langsung ke Torquay dengan menempuh perjalanan sejauh 104 km, dan memakan waktu sekitar 1.5 jam.

Ini tuh kota yang bikin saya mau kembali lagi mengunjungi Great Ocean Road. Iri rasanya melihat kebebasan penduduk disini yang bisa “bahagia” walau cuma berselancar sepanjang hari seumur hidupnya. Atau membuka toko-toko yang berhubungan dengan hobi berselancar.

Iri sekaligus ikut bahagia sih, karena mereka tahu apa arti kebahagiaan untuk diri mereka sendiri.

Kalau saya bisa menyimpulkan perasaan yang saya dapat mengenai kota ini, maka slogan yang paling tepat adalah: LIFE’s BEACH.

Tidak susah kok untuk bisa menemukan akses ke pantai yang membentang sepanjang kota Torquay ini. Pantai-pantai disini adalah kiblat bagi para peselancar dari seluruh dunia. Namun yang paling terkenal diantara semuanya adalah Bells Beach.

Bells Beach – the surfer’s paradise

Mereka siap berselancar. OMG, masih jam 10 pagi padahal!

Ketenaran yang didapat dari film jadul “Point Break” yang menceritakan tentang anggota FBI yang dikirim sebagai mata-mata ke dalam sarang sindikat perampok bank, yang ternyata adalah sekawanan surfers.

Di film yang mengudara di tahun 1991 tersebut, Keanu Reevs sebagai anggota FBI beradu peran dgn Patrick Swayze, peselancar ganteng dengan rambut pirang yang menyala.. Nah Si bule ini yang menjadi bahan ceng-cengannya Tony Stark ke Thor karena sama-sama memiliki rambut pirang panjang sebagai ciri khas mereka.

Inget kan adegan kocak di film Thor: Ragnarok, waktu Thor mau mengaktifkan pesawat Quinjet-nya Hulk dengan password lisan yang sudah diatur oleh Stark?

https://www.youtube.com/watch?v=hlXBofgefhk

Quinjet: Voice Activation Required

Thor: “Thor”

Quinjet: “Access Denied”

Thor: “Err, Thor, Son of Odin”

Quinjet: “Access Denied”

Thor: “God of Thunder”

Quinjet: “Access Denied”

Thor: “The Strongest Avenger”

Quinjet: “Access Denied”

Thor: “STRONGEST AVENGER”

Quinjet: “Access Denied”

Thor: “Damn you stark! ~ Point Break!”

Quinjet: “Welcome Point Break”

Setelah puas bemain di pantai sambil menyaksikan indahnya hidup peselancar-peselancar dengan kebebasan yang hanya bisa dipahami oleh mereka sendiri. Kami pun kembali bergerak menuju ke rute awal yang sudah kami tetapkan.


Sampai deh ke simbol yang entah sudah diajak selfie berapa kali oleh para pejalan. Ini loh, Great Ocean Road Memorial Arch yang terkenal itu.

Sambil mengambil beberapa gambar ldari ambang historis ini, aku menjelaskan kepada Ibu Negara tentang sejarah pembuatannya. Monumen ini selesai dibuat pada tahun 1919, guna memperingati 3,000 orang tentara yang pulang dari Perang Dunia Pertama dan membantu mengerjakan pembuatan lintasan jalan Great Ocean Road.

Memorial Arch

Tempat pemberhentian kecil untuk pengunjung yang mau foto-foto

Kapan bisa punya rumah di bukit kayak gini?

Tiba-tiba perut bunyi nih, pertanda lapar. Hahaha. Kami pun menepi sebentar, mencoba mencari makan di Lorne. Banyak memang restoran-restoran berjejer ramai yang menghadap langsung ke pantai.

10 menit kami berjalan, masih belum bisa memutuskan mau makan apa. Bukan karena jenis makanannya yang bikin kami kebingungan. Tapi harganya di luar budget kami, minimal sekali makan 16$ per kepala. What?!!

Sempetin Selfie berdua sama Ibu Negara

Made in China atau Lokal? Mirip kayak di Bugis Street. hahaha

Arena publik di tepi pantai

Okay, berbekal muffin semalam yang kami beli di Woolsworth, salah satu hypermarket di Australia, kami putuskan untuk mengganjal raungan perut kami dengan muffin. Ternyata masih kurang ampuh, Ibu Negara mengeluarkan sebungkus potato chip terenak yang pernah kumakan, merk-nya Smith. Kenapa bisa kubilang enak? Karena buatku, selain rasa yang cocok di lidah, efek sakit tenggorokan itu yang lebih penting. Aku nggak mau habis makan Chips, langsung sakit waktu menelan ludah.

Smith Chips ini benar-benar top, nggak bikin sakit tenggorokan deh! Berarti chips ini dibuat tanpa MSG dan pengawet.

Cobain deh kalo ke Australia! Ada beberapa rasa loh!

 

“Kenapa sih masih bela-belain nahan makan siang, memang ada apa sih?” , Ibu Negara bertanya untuk kesekian kalinya.

Aku menjawab dengan misterius, “It’s for the sake of the memories! Bear with me for a moment!”

Sebelum dia sempat complain lagi, Aku membuat tikungan ke kanan. Sebenarnya sih sempat gelisah juga, kenapa tempatnya tidak sampai-sampai dari tadi. Berbekal google maps dan sekelibat ingatan dari tahun 2011 kala terakhir ku berada di tempat ini, akhirnya perut keroncongan kami akan terisi.

Dan bonus dari kunjungan ke sini adalah berburu foto-foto koala liar. Benar-benar kawanan koala yang hidup di habitat sebenarnya. Hewan yang waktu tidurnya bisa mencapai 18 jam sehari ini sangat anteng di depan kamera. Ya anteng sih, karena mereka memang sedang tidur sepanjang hari.

Kami melajukan mobil sewaan kami ke arah jalan menanjak, cukup tinggi kami menanjak sampai akhirnya bertemu sekumpulan mobil lain yang berjejer di tepi bukit. Ada beberapa koala sih tapi sebagian besar dari mereka sedang judes hari ini, mereka membelakangi kami semua loh!

 

Lumayan capek juga dan memakan energi hunting foto koala liar. Berhubung makan siangku bukan nasi, cepat banget lapernya. Maklum perut orang Indo, perut nasi.

Kalau perut masih bisa nahan, namun rasa ngantuk sudah tidak bisa diajak kompromi. Satu jam berkendara non-stop dari Kenett River, mataku sudah sisa dua watt. Kami pun merapat ke Lavers Hill. Sebuah kota kecil nan cantik yang terletak di perbatasan antara Colac dan Port Campbell. Dengan penuh pengharapan untuk stay awake, ini adalah Gelas kopi ketiga yang sudah keteguk di hari yang sama.

Duduk-duduk sejenak, diikuti foto-foto sebentar. Baru berdialog sebentar saja dengan penjaga toko dan repairman mesin pomp bensin disitu, kami malah disarankan untuk bermalam di Lavers Hill. Mereka menjanjikan bahwa kami tidak akan kecewa dengan keasrian kota ini. Ya memang cantik sih, tapi kami tidak tergoda hahaha.

Oke lanjut!

Kopi sudah ok! Cemilan juga ok! It’s time to hit the road again!

Matahari mulai malu-malu pertanda mau segera bersembunyi. Warna angkasa mulai berganti, deru mesin masih terus berlomba dengan lagu boyband Korea kesukaan Ibu Negara.

Gibson Steps ini adalah destinasi wajib bagi pejalan rute Great Ocean Road. Gimana nggak?

Bayangin aja, bisa berjalan di bawah kaki limestone Twelve Apostles sambil berbasah-basah kaki kecil. 3 jam sebelum matahari terbenam adalah waktu yang pas untuk main kesini. Karena bisa lebih private dan jauh dari ramainya turis yang datang kesini pada waktu bersamaan, yakni saat sunset.

Lho kok kenapa ga sunset-an disitu aja?

Sejujurnya, it is really overated.

Susah dapet momen yang enak dan foto yang bener-bener pas. Karena kesana kemari kulihat banyak.. orang.

Nama Gibson Steps merujuk kepada tangga turun dari dataran yang setingkat dengan jalan raya, hingga ke area pantai di bawahnya. Menurut sejarah, tangga tersebut pertama kali dibentuk ke badan tebing oleh penduduk local asli, Kirraw Whurrong dan dilestarikan oleh penduduk selanjutnya.

Melalu anak-anak tangga yang lebarnya hanya seukuran satu orang dewasa, agak susah juga kalau lagi ramai. Aku perlu memiringkan badanku sedikit untuk berbagi celah dengan pengunjung lainnya.

Lebih-lebih kalau turisnya orang bule, ukuran badannya aja sudah extra, mau dimiring-miringin pun pasti bentrok.

Oh iya, sekedar tips, deretan anak tangga ini agak licin ya, jadi kudu pegangan. Karena banyaknya turis yang lalu lalang dari pantai lalu naik ke atas mengarah ke tempat parkir.

Dari semua atraksi yang ada di sepanjang Great Ocean Road, Gibson Steps ini adalah yang paling favorit buatku. Sekitar 86 langkah ke bawah, tebaran refleksi cahaya matahari dan air laut serta jarak pandang yang seakan tertutup kabut benar-benar menjadikan tempat ini tiada duanya.

We are in the same level with the Apostles themselves.

“Keenakan kita disini nih, Non. Ayo segera berberes, kan kita mau kejar sunset di Port Campbell”, ucapku ke Ibu Negara.

Ibu Negara mengangguk pelan layaknya enggan berpindah. Entah kenapa. Apa karena tersihir oleh angin laut yang sepoi-sepoi atau memang masih ingin berlama-lama di Gibson Steps.

Kembali menaiki tangga yang mini nan licin, menyalakan mesin mobil dan bergegas menepuh rute terakhir kami di hari pertama ini, Port Campbell.

Sebuah kota penuh warna warni yang terletak di pesisir pantai, Port Campbell adalah pilihan tepat untuk bermalam. Populasi penduduk kota ini ternyata sedikit banget loh, kurang dari 700 orang! Jumlah siswa di SMA ku dulu mungkin masih lebih banyak daripada jumlah penduduk disini.

Anyway, rasa lapar kembali melanda. Jangan bosan ya kalau dengar lapar melulu. Maklum kalo lagi liburan bawaannya begitu hehehe. Kamu juga kan? Ngaku deh..

Setelah meliuk-liuk dari tikungan ke tikungan, akhirnya kami menemukan sebuah restoran Italia, Nico’s Pizza & Pasta, dan biasanya kalau di restoran Italia, makanan yang paling cocok di kantong adalah Pizza. Bermodalkan 24$, kami mendapatkan 12 potong Pizza dengan ukuran yang lumayan besar. Enaknya lagi, bisa kami simpan sampai besok pagi. Lumayan ada sarapan gratis.

Karena kutinggal di motel, nggak ada yang namanya sarapan pagi, area reception-nya pun merupakan salah satu yang paling mini yang pernah kutemui selama ku traveling.

“Number twenty four! Your pizza is ready!”

Aku masih memejamkan mata sejenak dengan Ibu Negara di teras rumah makan Italia itu, maklum saja, seharian kami berkendara, rasa capek dan pegel-pegel mulai terasa. Walaupun singkat, menyenderkan tubuh di dinding sambil ditiup angin laut Selatan benua Australia bisa menjadi pelampiasan istirahatku.

“Number twenty four! Your pizza is ready!”

Panggilan bernada teriakan seperti membangunkan kami dengan paksa.

“Arghhh! Okay i’m coming, gerutuku.”

Sambil berjalan membawa sekotak pizza di tangan kiri sebagai bekal makan malam sekaligus makan pagi besok, Ibu Negara menggandeng telapak tangan kananku.

“Masih suasana Valentine nih, makan pizza sambil nikmatin matahari terbenam yuk di pinggiran pantai.”

Aku cuma tersenyum sambil menaikkan kedua sisi alis mataku bergantian sebagai tanda setuju.

Ya, momen itu salah satu kenangan terindah kami, sambil disirami cahaya jingga matahari terbenam, dan mulut yang terus menguyah gigitan pizza, kepala Ibu Negara bersandar di bahuku.

“Not so bad ya yank, modal cuma 24 dolar tapi dapat view luar biasa?”

Perjalanan Great Ocean Road hari pertama kami ditutup dengan romansa di hari Valentine.

“… Eh ini burung camar ternyata doyan Pizza juga loh!?”


 

Dirgan Fasa Author
Dirgan founded Casa Fasa as a place to share inspiration from his travels and to inspire others to see our world. He now split his time between adventures abroad and adventures in the 9-5 workspace!
follow me
Please follow, share and like us:
RSS
Whatsapp
Follow by Email
GOOGLE
GOOGLE
YouTube
Pinterest
Pinterest
Instagram

14 thoughts on “SEBELUM KE GREAT OCEAN ROAD, BACA INI! – Part 1

  • Reply Budi Setiadi June 10, 2018 at 1:04 pm

    Wahhh seru bangettt… next bisa kesana ngikutin rutenyaaaa.. thank you udah share 🙂

    • Reply Dirgan Fasa June 10, 2018 at 1:25 pm

      Iya mas Budi 😊. Nanti Part-2 nya lagi ku garap. Semoga bermanfaat juga..

  • Reply dongengtravel.com June 19, 2018 at 7:46 pm

    enak banget bacanya mas, ceritanya santai dan langsung to the poin. Bagus banget ya ausy, bersih, rapih, tertata banget loh tempatnya. Jadi mau kerja disana deh, menyenangkan sepertinya hahaha

    • Reply Dirgan Fasa July 5, 2018 at 6:35 pm

      makasih ya sudah mampir ke blog-ku.. Aussie adalah salah satu tempat yang oke banget untuk menghabiskan masa pensiun. beli mobil, lalu keliling dari timur ke barat, seru banget 🙂

  • Reply Himawan Sant July 6, 2018 at 5:50 pm

    Wuiih kereeen Great Ocean Road, Dirgan ….. !.
    Berkesempatan pula ketemu koala ☺

    Bentuk batu karangnya ya …
    Gede dan gagah.

    • Reply Dirgan Fasa July 6, 2018 at 6:57 pm

      Makasih mas Himawan.. yeah they are great and amazing!

  • Reply SEBELUM KE GREAT OCEAN ROAD, BACA INI! – Part 2 (Selesai) – Casa Fasa July 6, 2018 at 6:38 pm

    […] Yeah! Sudah masuk ke hari kedua kita menjelajah Great Ocean Road. Buat yang belum baca bagian pertamanya, check this out: Great Ocean Road ala Fasa – part 1 […]

  • Reply Bang Harlen July 7, 2018 at 10:54 pm

    Foto2 ny keren mas..

    Oya btw itu makanan beneran harganya 16$ per kepala ? Itu lauknya apaan mas.. daging dinosaurus ? hhahhaa

  • Reply Bang Harlen July 7, 2018 at 10:58 pm

    Fotonya keren mas..

    Oh ya itu beneran harga makanannya 16$ per kepala.. ? Itu lauknya apaan ? daging dinosaurus.. ?? Hhhehe

    • Reply Dirgan Fasa July 9, 2018 at 3:06 pm

      hahaha iya mas mahal yah.. daging kangguru kayaknya hahaha

  • Reply Dyah July 8, 2018 at 10:53 am

    Gibson Steps tuh menuruni tebing setinggi itu? Turunnya sih bisa cepat, naiknya pasti ngos-ngosan…

    • Reply Dirgan Fasa July 9, 2018 at 3:14 pm

      iya tinggi banget Mbak, cuma pemandangannya worth it kok. Agak licin staircase-nya jadi harus pegangan ya supaya nggak kepeleset

  • Reply SEBELUM KE GREAT OCEAN ROAD, BACA INI! – Part 2 (Selesai) | Casa Fasa July 15, 2018 at 8:18 pm

    […] Yeah! Sudah masuk ke hari kedua kita menjelajah Great Ocean Road. Buat yang belum baca bagian pertamanya, check this out: GOR ala Fasa – part 1 […]

  • Reply Yarra Valley, Australia: 3 Hal Unik yang bisa kamu lakukan di sini | Casa Fasa August 6, 2018 at 7:35 pm

    […] membahas tentang Great Ocean Road Trip di dua postingan sebelumnya disini dan ini. Aku mau berbagi cerita perjalananku ke Yarra Valley dan hal-hal unik apa aja sih yang […]

Leave a Reply

close

Enjoy this blog? Viralkan :)