Kenapa Masih Banyak Orang-Orang Tua Yang Bekerja di Singapura?

Reading Time: 4 minutes
Please follow, share and like us:
RSS
Whatsapp
Follow by Email
GOOGLE
GOOGLE
YouTube
Pinterest
Pinterest
Instagram

Sebenarnya sudah lama ku mau menulis sesuatu tentang Singapura, negeri dimana aku menghabiskan hampir satu dasarwasa atau sepertiga dari usiaku. Mencari topik yang tidak terlalu umum untuk dibahas tapi bisa memberikan paradigma baru kepada pembaca.

Akhirnya ku menemukan harta inspirasi berharga dari tulisan Kak Efenerr (Farchan Noor Rachman) yang bisa diakses disini. Dan ternyata benar-benar membuatku jadi bersemangat untuk menulis tentang Singapura. Kak Farchan mengenai banyaknya orang-orang tua yang masih bekerja dan berkarya di usia lanjut. Bagimana para sesepuh itu dihargai oleh pemerintah dan diberikan kesempatan untuk berkontribusi kepada society. Beliau menulis dengan sangat menarik untuk diikuti dan positif.

Terlalu positif menurutku.

Yep, sebagai traveler interim, saat melihat sebuah kota yang lebih advanced, semua terasa bagus.

Terlalu bagus biasanya.

Sama halnya juga seperti saatku pertama kali mendarat di Australia, semua terasa lebih baik dari Singapura. Penduduknya lebih ramah, pantainya lebih banyak, life goes so slow, motto work-life balance yang sangat mendarah daging. Everything looked so flawless.

Mungkin karena kita totally interested kepada destinasi yang kita tuju. Secara otomatis, kita menjadi open minded kepada hal-hal yang baru.

Namun setelah saya kembali lagi untuk ketiga atau keempat kalinya. Borok2nya negara tersebut baru kelihatan. Dari segi kebersihannya tidak lebih baik dari Singapura. Aspek Keamanan dan rasismenya apa mau dikata. Sistem transportasi Australia belum se-advanced Singapura padahal beda umur negaranya cukup jauh. Belum jika masuk ke masalah pajak dan sistem sosialisme masing-masing negara. Singapore is the clear winner.

Ya selalu ada dua sisi mata uang ya.. Tergantung pihak pribadi masing-masing. Ada yang menggunakan Australia sebagai tempat plesiran sejenak, atau ada juga yang menggunakannya sebagai tempat untuk hidup. Balik lagi ke value kalian masing-masing.

So.. Balik lagi ke perkara para penduduk berusia lanjut yang bekerja di Singapura.

Aku mau berbagi pendapat sebagai “imigran dengan KTP resmi Singapura” yang nyasar disini hampir sepuluh tahun lamanya. Pendapatku bisa dibaca seperti di bawah ini.

Ada dua alasan kenapa para orang-orang tua bekerja di hawker centres / airport./ ruang publik lainnya:

  1. Mereka memang mau bekerja

Sebagian kecil dari mereka ada di alasan yang ini. Mereka benci pensiun, mereka masih mau berkarya. Ada anggapan kalau masa pensiun itu cuma sebuah fase dimana mereka tinggal menghitung hari sebelum ajal tiba.

Mereka masih mau merasa berguna bagi sesama dengan menyumbangkan tenaga bagi khalayak ramai.

Di samping itu, mereka bisa menjadikan tempat kerja sebagai ajang bersosialisasi dan berlatih. Dampaknya bagus sekali untuk keadaan mental dan fisik mereka. Daripada sekedar duduk nonton teve atau mau gadget di rumah tanpa kejelasan.

Pemerintah Singapura pun mendukung sekali dengan cara menyediakan lapangan pekerjaan dan pelatihan-pelatihan khusus secara gratis.

Ini adalah sisi mata uang pertama.

  1. Mereka memang terpaksa berkerja

Bagi kaum yang tajir nggak terhingga (yang asal uangnya dari bermacam-macam sumber), Singapura adalah surga ajaib. Mereka bisa “mengamankan” dana milyaran mereka di Bank-bank Singapura dan menikmati lapisan proteksi berlipat ganda. Misalnya saat lagi Tax Amnesty yang kemarinan itu, banyak banget dana-dana orang-orang kaya dari Indonesia yang segan dilepaskan oleh Bank-Bank lokal disini.

Nah begitu juga sebaliknya, bagi yang rakyat jelata level menengah, Singapura adalah tanah air mereka dengan biaya hidup yang tinggi. Bahkan penduduk lokal pun jarang ke Orchard Road karena mereka tahu disana rata-rata barang branded. Yang target pasarnya adalah turis, bukan penduduk setempat.

Skema pensiun mereka tergantung dari kontribusi pendapatan mereka di masa lalu. Kalau di masa mudanya mereka berleha-leha, kontribusi pendapatan mereka pun berleha-leha jumlahnya. Akibatnya, di masa tua, mereka perlu kembali ke dunia kerja dan menanggung semuanya sendiri.

Setiap penduduk tetap Singapura memiliki CPF (Central Provident Fund), sebuah wadah lembaga keuangan yang mengatur sistem pensiun perorangan penduduk tetap Singapura. Ya mirip-mirip seperti Jamsostek di Indonesia.

Sadisnya, sistem pensiun disini memiliki batas bawah minimum nilai di rekening pensiun kami yang harus dicapai adalah $171,000 (sekitar 1,8 Milyar Rupiah). Jumlah ini sangat fantastis memang, tapi ini adalah akumulasi tabungan mereka sejak masa produktif bekerja dulu yang dipotong 20% setiap bulan dari gaji mereka. Misalnya, si A, sudah bekerja sejak tahun 1990 saat berumur 25 tahun, dengan pendapatan $1500/bulan, 20% potongannya adalah $300/bulan. Supaya hitungnya gampang, Anggap aja si A ini tidak naik gaji selama 28 tahun bekerja sejak tahun 1990 hingga 2018, jadi $300 per bulan x 28 tahun masa bekerja x 12 bulan = $100,800 (sekitar 1 Milyar Rupiah) nilai uang di rekening pensiun si A.

Usia si A di tahun 2018 sudah mencapai 53 tahun. 2 tahun lagi memasuki masa pensiun. Tetapi jumlah nilai pensiun yang bisa dicapai hanya $100,800, masih jauh sekali jika dibandingkan dengan batas bawah minimum nilai pensiun yang harus dicapai, yakni $171,000. Ada perbedaan sekitar $70,200 (700 juta rupiah).

Jadi bagaimana?

Si A harus terus bekerja sampai bisa mencapai angka “aman” pensiun di $171,000, baru dia bisa benar-benar pensiun.

Berapa lama si A harus terus bekerja?

$70,200 / $360 per bulan = 195 bulan = 16.25 tahun ~ kita bulatkan menjadi 16 tahun.

Dengan umur si A sekarang 53 tahun, dia masih harus bekerja lagi selama 16 tahun lagi, yakni sampai umur 69 tahun.

Dengan catatan, batas bawah $171,000 ini tidak akan berubah lagi (alias naik lagi). Yang diprediksi akan mencapai $181,000 di tahun 2020. Gila kan?

Kerja terus sampai hamsyong.

Makanya banyak juga yang benar-benar tidak bisa merasakan uang pensiunnya sampai ajal tiba, hanya anak-anak dan istrinya yang bisa menikmati hasil keringat mereka.

Ini salah satu alasan utama kenapa masih banyak orang-orang tua yang masih berkerja. Karena mereka tidak ada pilihan lagi.

Lho kok anak-anaknya tidak membantu mereka?

Karena anak-anaknya juga sudah punya hidup dan kesusahan mereka sendiri, ditambah juga, anak-anak mereka harus ‘bertempur’ dengan rekening pensiun mereka sendiri juga.

Semua seperti lingkaran tiada akhir.


Ini berkebalikan banget dengan sistem di beberapa negara lain. Yang mana memiliki mental : “Kamu sudah mendukung kami di masa lalu, sekarang giliran kami membantu kalian.”

Ya, dengan minimnya dukungan dari pemerintah, satu-satunya jalan bagi mereka untuk bertahan hidup, mereka harus bekerja.

Banyak memang jenis-jenis mata pencaharian yang tersedia bagi para lanjut usia ini, tapi keterbatasan skill mereka menyulitkan perusahaan-perusahaan untuk merekrut mereka.

Jadi ya beginilah realita yang ada. Selama belum ada cara lain yang bisa menyerap tenaga mereka, kita masih akan melihat banyaknya para lanjut usia itu bekerja di hawker centre, bandara ataupun tempat-tempat lainnya.

Panjang yah bacanya? Hehe tenang aja, sudah ku rangkum kok.

Alasan begitu banyaknya orang-orang lanjut usia yang masih bekerja di Singapura adalah:

(1) Generasi muda yang pada umumnya lebih memilih untuk menapaki jenjang karir daripada sekedar kerja. Mereka kerap mencari lowongan karir “berkerah putih”.

(2) Adanya kekurangan dalam jumlah batas minimum pensiun di rekening CPF para lansia tersebut, sehingga mewajibkan mereka untuk terus bekerja hingga jumlah tersebut terpenuhi.

(3) Banyak kaum orang tua tersebut yang kesepian, dengan masuk ke dalam dunia kerja, mereka bisa mendapatkan kesempatan untul berinteraksi dengam khalayak ramai. Selain itu juga bisa memberikan mereka kepuasan tersendiri daripada sekedar hanya duduk diam sepanjang hari.

Dalam setiap program pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Tapi setidaknya Singapura sudah benar-benar serius mempersiapkannya.

Apakah Jamsosteknya Indonesia bisa mencukupi kehidupan hari tua kalian?

‘Jangan malah ketika muda, terus berkarya dan melakukan yang terbaik. Karena ketika tua nanti, semua hasil jerih payah kita akan kita tuai. Mau santai waktu muda, silahkan, tapi jangan merengek dan ngambek ketika tua nanti hidup kalian tidak nyaman seperti orang lain yang bekerja maksimal di waktu muda.’


 

Dirgan Fasa Author
Dirgan founded Casa Fasa as a place to share inspiration from his travels and to inspire others to see our world. He now split his time between adventures abroad and adventures in the 9-5 workspace!
follow me
Please follow, share and like us:
RSS
Whatsapp
Follow by Email
GOOGLE
GOOGLE
YouTube
Pinterest
Pinterest
Instagram

3 thoughts on “Kenapa Masih Banyak Orang-Orang Tua Yang Bekerja di Singapura?

  • Reply Lia Harahap April 21, 2018 at 2:51 pm

    Sebenernya suka sedih liat orang-orang tua ini. Soalnya jalannya udah ada yang pelan banget sambil bungkuk-bungkuk. Cuma kadang mereka judes juga sih hahahaha.

    Oiya, kak. Itu uang pensiun itu artinya kalau sudah mencapai minimum baru bisa dicairkan ya maksudnya?

    • Reply Dirgan Fasa April 29, 2018 at 4:52 pm

      Halo Lia,

      Sorry baru balas commentmu.
      Iya maksudnya begitu, kalau sudah mencapai minimum baru bisa dicairkan. Jadi kalau belum bisa mencapai, harus terus kerja supaya bisa hit.
      Beberapa dari mereka memang judes haha, aku juga sering dijudesin. Dan pada akhirnya, lebih baik tidak usah disapa. Just let go.
      Hahaha

  • Reply Cari Uang Di Singapura, Gimana Sih Rasanya? – Casa Fasa June 16, 2018 at 5:08 pm

    […] Buat yang belum tahu tentang plus-minusnya CPF, bisa cek disini. […]

Leave a Reply

close

Enjoy this blog? Viralkan :)