One Club Man – Untuk Direnungkan

Reading Time: 3 minutes
Please follow, share and like us:
Instagram
YouTube
YouTube
Whatsapp
GOOGLE
GOOGLE
Follow by Email
Pinterest
Pinterest
RSS

Tentang “One Club Man”

Gaduh-gaduh tentang siapa yang lebih hebat antara Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo seakan tidak ada habisnya. Dari jaman aku pertama kali menginjakkan kaki di negeri Singa hingga sepuluh tahun berlalu, nama dua pemain super luar biasa tersebut masih terus dipergunjingkan.

One Club Man

Opini populer mengatakan bahwa Cristiano Ronaldo lebih jago karena di setiap klub yang dia huni, selalu ada gelar juara yang dia persembahkan. Begitu juga dengan mesin gol di tim sepakbola yang dia perkuat, serasa aliran gol tidak pernah berhenti.

Opini populer lainnya juga mengatakan bahwa Messi hanya jago di Barcelona, jika dia ditempatkan di tim non Barcelona, dia tidak akan bisa sejago sekarang.

Dan opini-opini populer tersebut rata-rata muncul dari pendukung Manchester United (karena Cristiano Ronaldo pernah ikut membesarkan Klub Setan Merah ini dalam sebuah periode di tangan Sir Alex Ferguson).

Sumber lain dari opini-opini popular tersebut juga lahir dari Madridista, yang notabene pernah diperkuat juga oleh Cristiano Ronaldo. Hal ini makin diperparah, karena Messi berada di tim rival utama mereka, FC Barcelona.

Di topik kali ini, aku tidak akan membahas soal skill ataupun statistik masing-masing pemain. Karena mereka berdua berada di level yang berbeda. Bahkan dengan pemain-pemain yang digadang-gadang sebagai pengganti mereka sebagai figur puncak di dunia sepakbola, seperti Neymar, Hazard, Mbappe, dll, masih terlalu jauh gap-nya.

Yang mau aku bagikan di blogpost kali ini adalah tentang cara pandang lain tentang arti “One club man” yang sebenarnya mengandung banyak makna di balik kata-kata sederhana tersebut.

“One club man” tidak berarti selalu takut mengambil resiko. Lionel Messi di Barcelona telah mengalami banyak evolusi dari segi gaya bermain, kolega di lapangan dan taktik. Dari gelombang Emas era Rijkaard, Messi bermain di striker kanan menemani Etoo di tengah dan Ronaldinho di kiri.

One CLub Man

Lalu di era Pep Guardiola, Messi tidak terhentikan di posisi false nine, ditemani Xavi dan Iniesta di lini tengah, trio ini menjadi bagian penting dari generasi emas Barcelona saat itu.

One CLub Man

Luis Enrique datang dan menggabungkan Luis Suarez, Neymar dan Messi menjadi tridente termaut di dunia sepakbola kala itu. Berujung pada keberhasilan Barcelona menguasai Liga Champions dan La Liga. Messi lagi-lagi berganti posisi, berpindah ke striker kanan untuk mengakomodir naluri striker Luis Suarez. Masih bersama Iniesta dan Xavi juga saat itu yang sudan memasuki usia senja mereka sebagai pemain sepakbola.

Terakhir, bersama Valverde, demi mengisi void yang ditinggalkan Iniesta, Messi masuk mengisi lini tengah sebagai playmaker.

Messi berganti peran demi peran untuk menyesuaikan dengan evolusi skuad Barcelona selama sepuluh tahun lebih.

Apakah dengan ini Messi bisa disimpulkan tidak lebih baik dari Cristiano Ronaldo?

Hmm..


Contoh kedua, Sir Alex Ferguson. Pelatih terlama dan tersukses di Manchester United. Bahkan boleh dikatakan beliau adalah “One club man” – nya Manchester United.

Seperti halnya Lionel Messi, Sir Alex Ferguson melewati banyak pergantian skuad di Manchester United. Dari jaman Eric Cantona hingga Michael Carrick. Dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang mengatakan bahwa Mourinho lebih baik dari Beliau.

Walaupun Ancelotti dan Mourinho sudah berhasil menjadi juara di berbagai klub di belahan dunia. Namun jarang ada yang mengangkat topik SAF vs Mourinho. Karena “one club man” tidak selalu lebih jelek daripada personel yang sering berpindah-pindah klub. Berpindah-pindah artinya cukup beragam, bisa jadi dipecat, tidak diinginkan, dijual, tidak betah atau memang mau tantangan baru.

One Club Man


“One club man” juga bisa melambangkan arti sebuah loyalitas. Lihat Del Piero (yang akhirnya dijual Juventus demi regenerasi skuad), Maldini, Baresi, Costacurta, Totti dan Zanetti yang sangat beruntung bisa pensiun di tim yang dibelanya sejak lama.

One Club Man

Ujian tentang loyalitas adalah ujian yang terberat apalagi ketika pemain sedang berada di atas penampilannya, tawaran dari klub-klub sekelas Real Madrid, Barcelona, Juventus, Manchester United tidak pernah lepas dari pemain-pemain tersebut.

Del Piero yang rela tinggal di Juventus kala terdegradasi ke Serie-B, Totti yang berulang kali menolak tawaran dari Real Madrid menjadi fakta yang tak terbantahkan. Apakah mereka kalah hebat dari pemain tengah yang sering berganti klub seperti Clarence Seedorf. Lalu apakah Maldini kalah hebat dengan Ashley Cole di posisi bek kiri?

Tidak juga kan?!

One Club Man One Club Man

Jadi, jangan selalu berpikir One Club Man adalah orang yang tidak berani mengambil resiko. Justru mereka mengambil resiko terbesar dengan tinggal di klub yang sedang sukses. Karena mereka sadar bahwa tidak ada yang menjamin klub tersebut akan sukses lagi di kemudian hari. Mereka memilih untuk menghadapi perubahan yang ada dan membuat tim mereka meraih kesuksesan lagi?

Atau malahan pemain atau pelatih yang “cabut” setelah meraih sukses bisa disebut juga pelatih yang “tidak bernyali”, boleh dibilang begitu?

Karena setelah sukses, mereka langsung meninggalkan tim tersebut tanpa mau merasakan kegagalan dan bangkit mengulang siklus kemenangannya?

Gimana menurut kamu?

Dirgan Fasa Administrator
Dirgan Fasa Dirgan founded Casa Fasa as a place to share inspiration from his travels and to inspire others to see our world. He now split his time between adventures abroad and adventures in the 9-5 workspace!
follow me
Please follow, share and like us:
Instagram
YouTube
YouTube
Whatsapp
GOOGLE
GOOGLE
Follow by Email
Pinterest
Pinterest
RSS

Leave a Reply

close

Enjoy this blog? Viralkan :)