fbpx

Catatan Hidup di Singapura #2: Hari Pertamaku di Singapura

Reading Time: 3 minutes

Riak kecil bunyi gesekan roda kereta listrik dengan relnya menyambar tanpa aba-aba. Suara pengumuman nama stasiun tempat kami berhenti didengungkan beberapa kali.

“Buona Vista. Buona Vista.”

Kerja di Singapura - Casa Fasa

“Ah, sampai juga akhirnya,” gumamku, setelah lama berdiri dan menyempilkan koper besarku itu ke sudut dekat pintu bergeser otomatis MRT.

Setelah hampir satu jam aku tidak mengindahkan lirikan-lirikan sinis para komuter setempat yang sepertinya merasa risih karena aku dan koper berukuran 32 inci tersebut yang sudah mengambil jatah ruang untuk dua penumpang.

Tapi mesti bagaimana lagi, aku tidak punya pilihan transportasi hemat lainnya. MRT adalah yang paling logis menurutku. Dan memang ini adalah salah satu cara untuk bertahan hidup di Singapura.

Aku harus segera tiba di rumah Bosku, sempat gagal fokus karena dibingungkan oleh banyaknya pintu keluar di stasiun MRT tersebut. Salah ambil pintu keluar, berarti kemungkinan nyasar itu tinggi sekali.

Tahun 2009 dulu, belum ada aplikasi penunjuk jalan dan transportasi yang sekeren sekarang. Tidak ingin membuang resiko, akhirnya kurelakan SGD 8 pertamaku berganti tangan ke supir taksi.

Modalku saat itu cuma SGD 600 untuk bertahan selama sebulan, itu pun dipinjamkan oleh Ibu Negara. Maklum, tabungan hasil kerjaku selama di Jakarta sudah sangat menipis dikarenakan bolak-balik Jakarta-Singapura untuk interview dan melakukan riset apakah layak tinggal di negara tersebut.

Sampai juga akhirnya di rumah ex-Bosku, panggil saja namanya Iman, orang Indonesia yang sudah berganti paspor menjadi warga negara Singapura.

Kerja di Singapura - Casa Fasa

“Walah, ini rumah atau istana, luar biasa besarnya. Rumahnya terletak di kawasan premium pusat kota Singapura. Dari selentingan kabar yang kudengar, harga rata-rata rumah di kawasan tersebut sekitar sepuluh juta dollar Singapore kala itu. Jika dirupiahkan sekitar 100 Miliar Rupiah.

Ngeri kan begitu tahu harganya!!

Selang beberapa pencetan bel, pagar besi mengkilap tidak bergeming. Aku tak kuasa menahan mataku untuk mengintip dari sela-sela celah pagar tersebut. Hanya untuk memastikan bahwa aku berada di lokasi yang benar.

“Sebentarrrrrrr.” Terdengar teriakan dari sudut terdalam rumah itu.

“Tunggu yaaa.” Teriakan kedua ini menjadi satu dengan engah dan bunyi seretan sandal.

Pagar besi setinggi empat meter itu bergeser hebat diiringi gemuruh jatuhnya koper besarku karena dihempas pagar yang kokoh tersebut.

“Sorry, sorry nggak sengaja kena kopernya,” sahut wanita berkulit sawo matang tersebut.

Aku membalas dengan senyum: “Oh, nggak apa-apa, Mbak. Aku yang salah kok, taruh kopernya sampai nempel ke pagar rumah ini.”

“Ini Dirgan ya? Silahkan masuk, Pak Iman sedang tidak ada di tempat, nanti sore baru bisa menemuimu,” tambahnya.

====

Kerja di Singapura - Casa Fasa

Ya, asisten rumah tangga itu namanya Mbak Ani. Dia sudah bekerja di Singapura dengan keluarga Pak Iman sejak 10 tahun lalu. Mbak Ani adalah seorang pejuang tunggal dalam menafkahi keluarganya di kampung. Seperti cerita klise pada umumnya, suaminya lari dengan wanita lain.

Tidak memiliki pilihan yang cukup, dia memutuskan untuk berkelana dari kampung halamannya dan berlabuh di Kuala Lumpur sebagai titik landas pertamanya, sampai akhirnya bisa melayani sebuah keluarga pengusaha di Singapura.

“Kamu kuat nggak angkat itu, kelihatannya berat banget ya,” tanya si Mbak sambil melihatku yang berusaha tetap cool padahal terlihat kesusahan.

Aku tidak menjawab, hanya memberikan simbol jempol dengan telapak kananku.

Ya, sambil berbincang dan berganti tangan mengangkat koper ke lantai dua, kedua bola mata ini tidak bisa berhenti memonitor alas tangga yang kunaiki.

Bukan karena kagum akan materialnya yang dilapis kayu premium, tapi lebih untuk memastikan kedua roda koperku tidak meninggalkan bekas goresan.

“Jangan sampai hari pertama, karirku disini berakhir karena jejak gores yang kutinggalkan di rumah Pak Iman,” pikirku.

====

Banyak sekali keramik dan kerajinan tangan antik bergeletakan di bagian sisi kiri lantai dua ini, yang tidak bisa kutakar dengan nalarku kala itu. Di tengah-tengah lantai ini, ada sebuah kamar besar dengan pintu tertutup.

“Sudah pasti ini bukan kamar yang ini deh,” sahutku dalam hati.

Agak ke kanan sedikit, sebuah ranjang berukuran single dengan selimut berantakan menyembul di tengah kegelapan.

“Semoga bukan yang ini, kecil, sempit dan mirip kamar di film-film horor,” aku memohon dalam hati.

Ternyata Mbak Ani sudah menungguku di depan sebuah kamar yang lumayan besar, dia sudah memanggilku dengan lambaian tangannya.

“Disini loh Gan, dua kamar yan tadi itu sudah ditinggali. Yang kamar pertama dengan pintu tertutup itu si Tina dan Christin. Kamar kedua itu si Hudar, orang Indo juga. Dan ini kamarmu dan Guo Liang.”

“Guo Liang?” Tanyaku spontan.

Ada dua ranjang single yang satu sudah ada kasurnya, dan yang satu lagi hanya rangkanya saja. Sudah pasti yang belum ada kasurnya itu pasti punyaku.

“Iya, dia itu kepala produksi dari China. Dia tinggal disini juga. Kamu berbagi kamar dengan dia.” Balas Mbak Ani dengan cepat seakan dia sudah tahu kalau aku pasti terkejut.

“Oh oke Mbak, makasih ya.” Sahutku.

====

Setengah daun pintu sudah hampir kututup, seketika bertubi-tubi ketukan menerpa.

Kubuka sedikit, ternyata Mbak Ani lagi. Aku sedikit bingung, apakah masih ada lagi sesuatu yang tertinggal.

Tiba-tiba wajah ramah Mbak Ani yang dari tadi terpajang berubah menjadi sedikit gelap. Senyumannya kali ini memberikan sengatan seakan ada sesuatu yang tidak beres.

“Mbak mau tanya ke kamu, kira-kira kamu bisa bertahan berapa lama disini? Apakah akan sama seperti yang lainnya?”

Aku mengeryitkan dahi, dan bertanya, “apa maksudnya itu, Mbak? Apakah banyak yang karyawan yang keluar masuk disini?”

“Hahahaha, nggak kok bercanda. Nanti kamu lihat saja ya.” Awan gelap di wajah Mbak Ani tiba-tiba berganti lagi menjadi senyum penuh sinar ramah tamah sembari pelan-pelan dia menutup pintu kamarku.

Ada misteri apa kira-kira di perusahaan ini?

Pertanyaan ini pun menutup malam pertamaku sebagai anak rantau di Singapura.


Ini adalah bagian kedua dari sepenggal kisah yang tertinggal sejak kedatanganku di Singapura.

Untuk yang belum baca bagian pertamanya, ada disini yaa..

Dirgan Fasa Administrator
Dirgan Fasa Dirgan founded Casa Fasa as a place to share inspiration from his travels and to inspire others to see our world. He now split his time between adventures abroad and adventures in the 9-5 workspace!
follow me

2 thoughts on “Catatan Hidup di Singapura #2: Hari Pertamaku di Singapura

  • Reply Kevin December 7, 2019 at 9:10 am

    Wah seru nih ko. Lanjutkan lagi ceritanya ya.

Leave a Reply