Como, you own me..

Reading Time: 2 minutes
Please follow, share and like us:
RSS
Whatsapp
Follow by Email
GOOGLE
GOOGLE
YouTube
YouTube
Pinterest
Pinterest
Instagram

Percaya nggak percaya guys, sebuah literature perjalanan kadang bisa membawa kita lebih jauh dari yang si penulis harapkan. It can breathes a new perspective to our life.

Itu perasaan yang kudapatkan saat membaca National Geographic Traveler edisi May 2015 yang memiliki cover story berjudul Lake Como: A Love Story. Ditulis dengan indah dan sangat personal oleh Lorenzo Carceterra. Dia bercerita tenang istrinya yang mengidap kanker paru-paru stadium empat. Teman hidup selama tiga puluh tujuh tahun sedang menunggu ajal. Lorenzo memilih Lake Como sebagi tempat penghabisan untuk menemani istrinya sampai batas waktunya berakhir.

National Geographic Jun-Jul 2015 edition

Air mata saya bercucuran tak terkontrol, Penulis sangat berhasil men-transportasikan perasaanya kepadaku. Sebuah rasa jikalau istri yang kita cintai ada di batas garis antara hidup dan mati; surga dan neraka; sakit dan derita. Saya selalu bilang kepada istri saya: Yank, you know that i will do anything for you. Anything. Including sacrificing my own ego.”

Namun cerita Lorenzo membuatku tersadar, di samping banyak hal yang bisa kujanjikan dan kulakukan untuk orang yang kucintai, ada satu hal yang buat saya nggak berdaya. Begitu juga dengan Lorenzo, dia tidak berdaya saat menghadapi garis merah kehidupan yang sudah ditakdirkan oleh Ilahi.

Sebelumnya Como tidak masuk dalam list tujuan saya, tetapi saya putuskan untuk mengorbankan Zurich demi mengunjungi sebuah kota kecil di utara Milan ini. Kota dengan danau yang namanya lebih tersohor daripada kota tersebut. Kota dengan danau terbesar ketiga di Italia, setelah Lake Garda dan Lake Maggiore. Banyak aristokrat dan orang-orang kaya sejak jaman Romawi kuno menjadikan Lake Como sebagai tempat pelesir favorit mereka. Jadi jangan heran, kalau sepanjang perjalanan bakalan banyak banget nemuin rumah-rumah segede gaban.

Dan investasi perubahan rute tersebut memberikan return yang sangat tinggi. Selain benefit visual berupa pemandangan alpen Italia yang berbatasan langsung dengan alpen Swiss; benefit moral pun saya dapatkan berupa ketenangan batin dan pengaturan ulang paradimaku.

Si Ibu Negara sebenarnya sempat heran, “kenapa harus ke Como, Gan?” “Emang ada apaan di sana?”

Aku hanya membalas dengan senyuman dan irit kata, “nanti lihat aja ya, pokoknya bagus deh.”

Setelah merasa nggak cocok dengan Milan, waktu yang saya dapat di Como merupakan obat penawar yang mujarab. Bermain bersama burung-burung camar yang saking serunya hampir kecemplung ke danau sedalam 425 meter ini. Atau berjalan menyusuri town square, berbaur dengan warga lokal yang menjalani aktivitas bagaikan di-slow motion. Lambat bener cara mereka melakukan rutinitasnya. Mereka sungguh memegang teguh motto : La Dolce Vita.

Lake Como

Ibu Negara juga mengamini perasaan yang kurasakan, tenang dan damai banget. Dia bahkan minta supaya balik ke sini lagi kalau ada kesempatan ke Eropa di waktu mendatang. Yeah, Lorenzo Carceterra memang benar. Proses rejuvenasi kami berjalan dengan sukses berkat nuansa syahdu kota kecil ini.

I reach over and take my wife’s hand. She turns toward me and smiles, then gently rests her head against my shoulder. “This,” she purrs, “is the most peaceful place. I could stay forever.” I nod and hold her hand tightly. 

Sempat kepikiran sih kalau nanti mau habisin masa tua, kami jual semua aset dan harta hasil jerih payah kami lalu habiskan hari tua kami di kota pinggir danau ini. Bisa jadi ini cuma perasaan romansa cinta lokasi yang hanya bersifat interim. Tapi banyak juga orang-orang terkenal yang membeli rumah disini, seperti Madonna, George Clooney, Richard Branson, dan bahkan idola sepakbola saya, Ronaldinho.

Betapa beruntungnya warga yang bisa hidup di sekitar danau ini, begitu matahari mulai nampak, pemandangan pertama yang mereka lihat adalah Lake Como yang begitu ramah. Pasti banyak jiwa-jiwa para traveler yang tersangkut di tempat ini. Seperti layaknya kami.

Como, you own me.

..

Yeah.

You still..


 

Dirgan Fasa Author
Dirgan founded Casa Fasa as a place to share inspiration from his travels and to inspire others to see our world. He now split his time between adventures abroad and adventures in the 9-5 workspace!
follow me
Please follow, share and like us:
RSS
Whatsapp
Follow by Email
GOOGLE
GOOGLE
YouTube
YouTube
Pinterest
Pinterest
Instagram

2 thoughts on “Como, you own me..

  • Reply helterskelter February 21, 2018 at 4:53 pm

    aaak, Lake Como ini juga salah satu destinasi incaran, dan setelah lihat foto-foto danaunya dan suasananya yang cakep banget, jadi makin pengin ke sana! 🙂

    • Reply Dirgan Fasa February 23, 2018 at 12:44 pm

      iya Yuki .. Cocok utk km and hubby hahaha.. romantis bangett 🙂

Leave a Reply

close

Enjoy this blog? Viralkan :)