Cari Uang Di Singapura, Gimana Sih Rasanya?

Reading Time: 12 minutes
Please follow, share and like us:
RSS
Whatsapp
Follow by Email
GOOGLE
GOOGLE
YouTube
Pinterest
Pinterest
Instagram

Cari Uang Di Singapura, Gimana Sih Rasanya?

Hello Guys!

Untuk memenuhi hasrat para followers Instagramku (buat yang belum follow IG ku, jangan lupa di-follow ya @dirganfasa) yang besar dan rasa penasaran kalian yang menggebu-gebu, akhirnya ku bikin khusus postingan tentang cari uang di Singapura ini untuk kalian.

Semoga berguna dan bisa menjadi gambaran tentang suka dan duka hidup disini.

Buat kalian yang belum tahu tentang jenis pekerjaanku, bisa diintip dulu di link ini.

Sebelum kalian tersesat lebih jauh hahaha.

Anyway, sebelum aku mulai nulis post ini, aku memejamkan mata cukup lama loh, lagi ngebayangin balik cerita di bulan May tahun 2009 dulu. Pertama kali officially aku mendarat di Singapura sebagai karyawan.

Well, aku mulai dari nol disini. Benar-benar nggak ada siapa-siapa. Nihil.

Di pekerjaan pertama, aku bekerja sebagain bagian logistik. Kerja dengan Bos yang notabene adalah orang Indo yang sudah berpindah menjadi warga negara Singapura. Jujur aku ngerasa kalau kerja sama orang Indo sebenarnya lebih nggak enak daripada kerja sama orang lain. Pertama, karena ada rasa segan dan tidak enak. Kedua, mereka juga suka “pemanfaatan”. Udah tau arti “pemanfaatan”?

Definisi “pemanfaatan” adalah mereka tidak ambil pusing untuk “memakai” kamu melakukan hal-hal di luar job description kamu dengan rumus “mumpung sama-sama Orang Indo”. Hal paling gokil yang pernah disuruh sama Bos Pertama ini adalah nemenin anaknya main bola kaki di teras rumahnya pas hari libur nasional, Hari Buruh.

.. WTF!

I supposed to rest and enjoy my private time, but duty calls.

Terpaksa.

Kampret bener!

Namu ya semua demi cari uang di Singapura, ya kujalankan saja.

Satu-satunya jasa Bos Pertama ini adalah dikarenakan tawaran kerja dari dia, aku bisa mendapatkan Permanent Residence. Jaman dulu masih gampang ya, karena Singapura lagi butuh foreign talent dan juga belum kena tampar krisis finansial Lehman Brothers. Yang belum tahu tentang krisis finansial Lehman Brothers, cek sama mbah Google yaa.

LONDON, ENGLAND – SEPTEMBER 24: Two employees of Christie’s auction house manoeuvre the Lehman Brothers corporate logo, which is estimated to sell for 3000 GBP and is featured in the sale of art owned by the collapsed investment bank Lehman Brothers on September 24, 2010 in London, England. The “Lehman Brothers: Artwork and Ephemera” sale will take place on September 29, 2010, on the second anniversary of the firm’s bankruptcy, and comprises of artworks which hung on the walls of Lehman Brothers’ offices in Europe. (Photo by Oli Scarff/Getty Images)

Anyway, pelan-pelan aku mulai lihat-lihat kerjaan baru, lalu kirim-kirim resume. Nggak tahan banget rasanya kerja di tempat ini, Bos Pertama ku ini bagaikan punya dua kepribadian. Beruntunglah kalau lagi berurusan dengan kepribadian dia yang waras. Kalo kena kepribadian yang tidak waras, ritualku adalah tangan dikepalkan, tarik napas dalam-dalam, lihat ke langit (sampai sekarang aku juga nggak tahu apa efeknya lihat ke langit LOL!). Tunggu sampai amarah reda lalu balik kerja lagi.

Akhirnya, kerjaan kedua kudapatkan. Kisahku tentanf cari uang di Singapura berlanjut. Karirku maju pesat di perusahaan kedua ini. Dari sini kusadari kalau hal terpenting dalam bekerja adalah atasanmu. Kalau atasanmu support, mau bantu dan fight untuk kamu, kamu pasti bekerja dengan tenang dan  nyaman.

Di perusahaan kedua ini juga aku memulai karir sebagai Regional Sales Executive. Bermula dari negara-negara antah berantah seperti Bangladesh, Pakistan dan Afghanistan hingga kawasan Asia Tenggara, seperti Indonesia, Malaysia, Myanmar, Thailand, dan sekitarnya.

Sayang petualanganku di perusahaan kedua harus berakhir, karena setelah lima tahun bekerja disana, aku merasa sudah “enak dan nyaman”, namun ini adalah tanda bahaya dalam hidup manusia. Ketika kamu merasa “enak dan nyaman”, itu adalah tanda bahwa kamu berhenti berkembang.

Aku putuskan untuk pindah ke kolam yang lebih besar dengan tantangan yang lebih besar. And here i am, bekerja di korporasi multinasional.

Banyak cerita-ceita pahit saat ku memulai hidup di Singapura yang mungkin akan kuceritakan di post berikutnya. Untuk saat ini kita fokus ke topik awal yaitu “Rasanya hidup dan bekerja di Singapura.”

IJIN KERJA

Banyak banget yang mau kerja di luar negeri, permasalahannya adalah gimana ijin kerjanya? Nah bagian ini adalah bagian yang paling berat. Banyak kawan-kawanku juga kena PHP masalah ijin kerja ini. Perusahaan di Singapura sudah kepingin banget merekrut mereka, persoalan gaji pun sudah deal¸namun entah karena faktor apa, ijin kerjanya ditolak.

Dalemmm banget rasanya kalo kena yang begini.

Ibaratnya sudah suka sama suka; cinta sama cinta; se-iya se-kata; tapi orang tua turun tangan dan melarang.

Bah!!#?#?#

Kalau ada alasan atau penjelasan kenapa ditolak, mungkin kita masih bisa memahami. Ini ditolak tanpa alasan. Rasanya lebih sakit daripada ditolak waktu apply Visa Amerika, walaupun sama-sama tanpa penjelasan juga.

Jadi kalau employer di Singapura sudah okay dengan kamu, bukan berarti semua sudah beres. Ijin kerja adalah babak terberat selanjutnya yang harus kamu hadapi.

Saranku: Terus berharap dan BERDOA.  Serius!  Kamu berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa kamu kontrol.

Ini adalah beberapa jenis ijin kerja yang paling umum di Singapura:

Jenis Ijin Untuk Siapa Ijin ini?
Employment Pass Untuk tenaga professional asing, manajer, dan eksekutif. Minimal gaji harus S$3,600 per bulan dan memiliki kualifikasi pendidikan yang diakui.
S Pass Untuk staff level menengah, Minimal gaji harus S$2,200 per bulan dan memiliki kualifikasi skills dan melewati penilaian tertentu
Work Permit for foreign worker Untuk kandidat pekerja yang memiliki skill khusus di bidang konstruksi, manufaktur, perkapalan, atau sektor pelayana (seperti hospitality, asuransi, travel, tourism, dan ritel).

Secara tidak langsung dari urutan di atas, tergambar juga urutan gaji setiap ijin kerja. Misalnya kalau kamu mendapat tawaran gaji bulanan sekitar $2,500 ~ pada umumnya kamu  pasti dapat S-Pass.

Kalau gaji kamu di bawah $2,200 per bulan, besar kemungkinan dapatnya Work Permit sih.

HACKING TIPS:

Untuk yang masih di bangku SMA dan mau melanjutkan ke diploma atau S1, kamu bisa mendapat grant dari pemerintah Singapura, asalkan kamu apply ke institusi pendidikan di bawah ini:

Diploma and Undergraduate studies – Tuition Grant Scheme

The Tuition Grant Scheme was introduced by the Government to help students with the costs of tertiary education in Singapore. The Tuition Grant Scheme is currently open to students enrolled for the full-time diploma or undergraduate courses in the Institutes of Higher Learning (subject to guidelines under existing policy) at the following institutions:

Autonomous Universities
National University of Singapore
Nanyang Technological University
Singapore Management University
Singapore University of Technology and Design
Singapore Institute of Technology
Singapore University of Social Sciences

Polytechnics
Singapore Polytechnic
Ngee Ann Polytechnic
Temasek Polytechnic
Nanyang Polytechnic
Republic Polytechnic

Arts Institutions*
Nanyang Academy of Fine Arts
LASALLE College of the Arts

Apa benefitnya?

Kalau kamu mendapatkan tuition grant dari pemerintah dengan studi di sederet Universitas ini, kamu bisa mendapatkan biaya studi yang lebih murah, dan kamu “harus” kerja di Singapore selama tiga tahun setelah lulus sebagai kontrak balas budi ke pemerintah Singapura yang sudah memberikan Tuition Grant. Ini subject to approval ya, nggak jaminan kamu apply tuition grant lalu diterima.

Based on True Story: Adik iparku sendiri yang kuliah di Nanyang Academy of Fine Arts dan karya desain interiornya lumayan sering muncul di Insta Story aku. Sekarang dia baru lulus D3 dan lagi mau lanjut ke S1, jadi kontrak kerja 3 tahunnya akan mulai setelah dia lulus S1.

NB: Untuk informasi berapa grant dan gimana cara detailnya. Mohon tanyakan langsung ke representatif Universitas di atas hehe. Aku bukan agent pendidikan, aku cuma sekedar berbagi informasi.

NAH, KALAU AKU SENDIRI STATUSNYA APA DI SINGAPURA?

Aku sudah memegang Permanent Residence (PR) sejak tahun 2009, jujur itu lagi gampang-gampangnya. Kalau saat ini, tidak ada jawaban pasti tentang kriteria dalam mendapatkan PR. Umumnya sih harus studi atau bekerja (mulai dengan ijin kerja yang sudah kusebut diatas) selama tiga tahun lalu mulai apply PR aja.

Kelebihan PR dibanding Ijin kerja adalah: Dari segi pekerjaan, PR itu lebih bebas untuk ganti employer, jadi kalau nggak betah, tinggal cari kerja baru. Sedangkan pemegang ijin kerja tidak sefleksibel itu, karena ijin kerja kalian adalah kontrak dengan perusahaan tersebut. Dimana kalau kalian resign, berarti ijin kerja kalian sudah otomatis gugur dan berdampak ke masa tinggal kalian di Singapura juga. Kalian harus balik ke Indonesia dulu, lalu mulai apply kerja lagi ke Singapura (kasarnya mengulang proses awal saat mencari kerja dulu).

Tapi menjadi PR itu ada dukanya juga, 20% dari gajiku dipotong setiap bulan untuk CPF (gabungan JAMSOSTEK dan BPJS-nya Singapura). Walaupun ada 15% tambahan dari employer, lumayan memang, namun cash aku berkurang 20%. Hiks2.

Buat yang belum tahu tentang plus-minusnya CPF, bisa cek disini.

20% itu nampol banget loh, kalau gaji kamu $3,000, 20% nya yaitu $600 langsung dipotong. Yang mana $600 kalau kukirim ke Indo setiap bulan, bunga depositonya lebih tinggi daripada bunga deposito di Singapore.

Sekedar catatan, rata-rata bunga deposito di bank Singapura berkisar antara 1~2%.

Kecil banget memang kalau dibandingkan dengan tingkat bunga di Indonesia. Tapi nabung di Bank Singapura dijamin aman, nggak akan ada kasus semacam Bank Century di Indonesia.

BIAYA HIDUP

Ini lumayan susah dijabarkan, karena cara hidup kamu dan aku berbeda pastinya. Namun berkaca dari kisah awal-awal ku berjuang di Singapura dengan hidup yang super duper hemat, kurang lebihnya sih begini biaya hidup pada umumnya:

Ini lumayan susah dijabarkan, karena cara hidup kamu dan aku berbeda pastinya. Namun berkaca dari kisah awal-awal ku berjuang di Singapura dengan hidup yang super duper hemat, kurang lebihnya sih begini biaya hidup pada umumnya:

Kebutuhan Primer:

  1. Akomodasi
  2. Makan
  3. Pakaian

Kebutuhan Sekunder & Tersier:

  1. Handphone
  2. Transportasi
  3. Rekreasi (link ke G+ post tg 5 wisata gratis di Indo)
  4. Entertainment

Akomodasi untuk pemula biasanya sih bisa tinggal di rumah susun subsidi pemerintah (HDB – House Development Board). Di Singapura jangan takut soal keamanan, walaupun rusun pemerintah; aman kok. Selama hampir 10 tahun disini, 95% domisiliku kuhabiskan di HDB.

Ibaratnya kita itu kayak nge-kos, dalam satu unit apartemen ada dua atau tiga kamar tidur. Satu kamar tidur ditinggali pemilik properti, dan kamar lainnya disewakan. Harga sewa bervariasi tergantung lokasi dan akses ke MRT. Kisaran $600 per bulan (tanpa kamar mandi dalam) untuk satu kamar cukup umum di pasaran.

HDB (Rumah Susun Subsidi Pemerintah)

Kalau mau yang nyaman dikit, bisa tinggal di condominium yang harganya dobel. Dapat akses kolam renang, gym, dan barbeque pit. Tapi jujur aja, berapa kali kamu bisa pakai fasilitas kolam renang dan barbeque pit? Alih-alih, yang sering digunakan ya fasilitas gym aja kan? Hehehe samaan.. Toss!

Private Condo

Untuk biaya makan, sekali makan di food court atau kopitiam kisarannya 5~7 dolar (bisa lebih rendah atau lebih tinggi tergantung lokasi kantornya). Sehari makan tiga kali @ $6 misalnya, sudah $18 sehari. Sebulan berarti $540.

Menu Makanan Jepang di Hawker Centre

Makan Steamboat di Hawker centre? Enak juga loh

Ini baru makan yang normal ya, kalau mau makan yg lumayan enak waktu weekend, sekali jebret bisa 20~30$ sekali makan. So kalau yang di Indonesia suka hang-out di resto-resto enak, siap-siap di-rem kebiasaannya.

Kita alokasikan dana untuk makan enak di resto sebulan dua kali deh, berarti $50 yah.

Nah untuk beli buah rata-rata sebulan kalau beli di supermarket murah di sini sekitar $30 per bulan. Kita perlu buah loh, jangan mengulangi kesalahanku dulu yang sok-sok hemat, berakibat sakit dan pencernaan terganggu karena skip buah demi hemat.

Pakaian, ya ini masing-masing lah ya. Ada tipe orang yang beli baju kalau perlu, ada tipe orang yang beli baju baru tiap bulan adalah sebuah keharusan. Kisaran baju Zara disini (kalo nggak diskon) di $40 ~ $60 normalnya. Kalau Uniqlo bisa $30 per pcs. H&M aku sudah jarang beli, bahannya makin lama makin tipis, kayak barang murah.

Okelah, supaya adil, kita alokasikan 100$ per bulan untuk pakaian ya.

Untuk kebutuhan primernya saja totalnya sudah: $600 + $540 + $50 + $30 + $100 = $1,320

Mari kita masuk ke kebutuhan sekunder seperti biaya sambungan handphone (komunikasi).

Awal-awal aku memang masih pakai prepaid sih, ada paket $20 per bulan. Enaknya bisa ku atur pengeluaranku. Tapi Cuma terbatas untuk sms dan telp aja. Kalau mau pakai paket data, bisa ambil paket $42.9++ per bulan (setelah tambah biaya caller ID dan tetek bengek lainnya, alhasil bisa $50).

Untuk Transportasi, ini tergantung nature pekerjaan kamu. Kalau kamu aktif berkelana di jalan Singapura dan perlu frekuensi naik kendaraan umum yang super sering, ambil Adult Monthly Travel Pass, biayanya $120/bulan.

Tapi kalau rute kamu Cuma dari tempat tinggal ke kantor dan jalan-jalan dikit habis pulang kantor. Lalu keluar waktu weekend, bisa pakai Ez-Link (kartu sejuta umat disini yang bisa diisi ulang). Rata-rata biaya sekitar $80 lah selama sebulan.

Mulailah kita masuk ke biaya rekreasi dan entertainment. Yang sangat sangat bervariasi tiap orang. Ada yang suka kopi-kopi, ada yang suka joget-joget di klub. Ada yang suka mabuk-mabuk di bar atau ada juga yang suka kongkow santai sambil dengerin live music. Tapi kalau ada yang suka semuanya, dijamin kantong pasti boncos.

Satu gelas kopi di Starbucks sekitar $6. Sebulan kita alokasikan $30 untuk kopi-kopi mahal. Lalu entrance fee ke club sekitar $20. Sebulan sekali aja ya ke club, $20 Nonton bioskop sebulan sekali, tiketnya sekitar $12.

Lalu biaya lain-lain, seperti beli buku, makan di resto yang lumayan, beli heels dan barang-barang keperluan lainnya, siapa tahu ketemu barang diskonan hahaha, kita alokasikan $120 per bulan.

Nabung untuk travelling $100 per bulan (ini harus! Hahahaha).

Nah, keseluruhan biaya untuk kebutuhan sekunder adalah: $50 + $80 + $30 + $20 + $12 + $120 + $100 =  $412 per bulan.

>>  Jadi total biaya semuanya untuk hidup “layak” di Singapore saat ini adalah $1,320 (kebutuhan primer) + $412 (kebutuhan sekunder)= $1,732.00/ bulan.

Bila ada perusahaan yang kasih kamu tawaran gaji sekitar $2,500/bulan, kira-kira gimana?

Yakin mau ambil? Tipis loh tabunganmu. Ini belum termasuk biaya beli polis asuransi sekitar $100 per bulan. Lalu biaya ke dokter $30 dolar minimal sekali berobat. Biaya dokter gigi disini teramat mahal untuk ukuran kita orang Indo, simple cleaning aja bisa $150. Makanya aku suka berlayar ke Batam untuk beresin gigi hehe, lebih murah.

Intinya sih gaji disini memang terlihat BESAR dibandingkan di Indonesia, tapi biaya hidupnya juga NAMPOL abis.

Minimal gaji $3,000 lah kalau mau ada tabungan cukup.

Kenapa mau cari uang di Singapura dan bagaimana lingkungan kerja disana?

Hmm.. kenapa ya?

Gini, secara pribadi, dari bangku SMA itu impianku memang sudah besar. Seperti ada kata-kata bijak dari orang yang kulupa namanya : “Bermimpilah sebesar mungkin, kalau impianmu belum bisa buat kamu gentar, berarti impianmu belum cukup besar.”

Jadi aku tulis di buku “Bucket List” yang bergambar lumba-lumba di sampulnya sejak bangku SMA. Salah satunya adalah “hidup independen di luar negeri tanpa bantuan dana dari orang tua.”

Secara nggak sadar, impian ini merentaskan jalan hidupku. Semua tindakan yang kulakukan pasti membangun impianku sepetak demi sepetak.

Contohnya: Waktu aku lulus gelar S1 di Universitas Swasta Katolik di Jakarta. Di semester 5, aku sudah mulai cari kerja paruh waktu, giat magang walau tanpa dibayar. Akhirnya mendapat pengalaman magang seminggu sekali di salah satu agensi besar, Ogilvy & Mather selama enam bulan, dan dapat uang saku. Bayangin aja, bisa sedot ilmu dari senior-senior dunia advertising, lalu dibayar. Amazing kan?

Aduh! Ngalor ngidul lagi entah kemana topik ini.. Maafkan..

Ok balik ke topik..

Pertama, Gajinya menarik makanya kuputuskan untuk cari uang di Singapura

Diantara negara-negara Asia lainnya, Singapura punya struktur gaji yang menarik untuk tenaga kerja asing. Untuk tenaga kerja IT, median gajinya sekitar $3,500 per bulan. Yummy kan? Hehehe..

Gaji yang menarik tidak cukup asyik jika tidak diikuti dengan poin kedua,

Kedua, Sistem Perpajakan yang Wajar

Lihat table untuk pendapatan tahunan di bawah ini dan coba dicerna:

Chargeable Income Income Tax Rate (%) Gross Tax Payable ($)
First $20,000
Next $10,000
0
2
0
200
First $30,000
Next $10,000

3.50
200
350
First $40,000
Next $40,000

7
550
2,800
First $80,000
Next $40,000

11.5
3,350
4,600
First $120,000
Next $40,000

15
7,950
6,000
First $160,000
Next $40,000

18
13,950
7,200
First $200,000
Next $40,000

19
21,150
7,600
First $240,000
Next $40,000

19.5
28,750
7,800
First $280,000
Next $40,000

20
36,550
8,000
First $320,000
In excess of $320,000

22
44,550

Jika gaji bulananmu adalah $3,000 ditambah bonus dan gaji bulan ke 13 sebanyak dua kali gaji. Maka total adalah 14x gaji, yaitu 14 x $3,000 = $42,000.

Total pajak yang harus kamu bayarkan adalah (lihat baris kolom ketiga): $550 untuk $40,000 pertama + (7% x (sisa kelebihan dari $40,000 pertama = $2,000 (didapat dari $42,000 – $40,000 pertama) = $550 + $140 = $690/tahun

Dengan kata lain pajak kamu hanya sekitar : ($690 / $42,000) x 100% = 2%!!

WTF! Ini surga bagi para pekerja. Pajak Cuma 2%!

Kalau bekerja di Singapura, pendapatan setelah pajak kamu adalah : $42,000 – $690 = $41,310 

Mari bandingkan dengan Australia. Banyak pencari kerja yang kepingin banget kerja di Australia.

Lalu dengan system pajak di Australia seperti di bawah ini:

Taxable income Tax on this income
0 – $18,200 Nil
$18,201 – $37,000 19c for each $1 over $18,200
$37,001 – $87,000 $3,572 plus 32.5c for each $1 over $37,000
$87,001 – $180,000 $19,822 plus 37c for each $1 over $87,000
$180,001 and over $54,232 plus 45c for each $1 over $180,000

Jika gaji bulananmu adalah $3,000 ditambah bonus dan gaji bulan ke 13 sebanyak dua kali gaji. Maka total pendapatan tahunan kamu adalah 14x gaji, yaitu 14 x $3,000 = $42,000

Total pajak tahunan yang harus kamu bayarkan adalah (lihat kolom ketiga) : $3,572 ditambah dengan (32cents untuk setiap kelebihan 1 dolar di atas $37,000 dimana kelebihannya adalah $13,400 (didapat dari $42,000 – $37,000); Pajak untuk kelebihan tersebut adalah 32 cents x $5,000 = $1,600. Maka total pajak tahunannya : $3,572 + $1,600 = $5,172.

Dengan kata lain persentase pajak kamu adalah : ($5,172/ $42,000) x 100% = 12%!!

Kalau bekerja di Australia, pendapatan setelah pajak kamu adalah : $42,000 – $5,172= $36,828

ALAMAK!

Selisih pendapatn tahunanmu setelan pajak kalau bekerja di Australia lebih sedikit $4,400-an atau sekitar Empat Puluh Empat Jutaan Rupiah.

BENGIS kan?

Di Inggris yang paling parah rate pajaknya. Gambaran kasarnya seperti ini:

Band Taxable income Tax rate
Personal Allowance Up to £11,850 0%
Basic rate £11,851 to £46,350 20%
Higher rate £46,351 to £150,000 40%
Additional rate over £150,000 45%

Jika gaji bulananmu adalah GBP3,600 ditambah bonus dan gaji bulan ke 13 sebanyak dua kali gaji. Maka total pendapatan tahunan kamu adalah 14x gaji, yaitu 14 x GBP3,600 = GBP50,400.

Total pajak tahunan yang harus kamu bayarkan adalah (lihat kolom ketiga) : 40% x GBP 50,400 = GBP 20,160

Dengan kata lain persentase pajak kamu adalah : (GBP 20,160/ GBP 50,400) x 100% = 40%!!

Kalau bekerja di Inggris, pendapatan setelah pajak kamu adalah : GBP50,400 – GBP 20,160= GBP34,140

SAKIT JIWA!

SARAP!

Pajak 40%! OMG!

Dan negara terakhir yang sering jadi impian banyak orang adalah Amerika Serikat. Mari kita bandingkan sistem perpajakannya:

Taxable income (USD*) Tax rate:
0-9,525 10%
9,526-38,700 12%
38,701-82,500 22%
82,501-157,500 24%
157,501-200,000 32%
200,001-500,000 35%
500,001+ 37%

* United States dollar

Jika gaji bulananmu adalah USD3,600 ditambah bonus dan gaji bulan ke 13 sebanyak dua kali gaji. Maka total pendapatan tahunan kamu adalah 14x gaji, yaitu 14 x $3,600 = USD50,400.

Total pajak tahunan yang harus kamu bayarkan adalah (lihat kolom ketiga) : 22% x USD50,400 = USD 11,088

Dengan kata lain persentase pajak kamu adalah : (USD 11,088/ USD 50,400) x 100% = 22%!!

MASIH LEBIH MENDING SIH dibanding Inggris. Tapi tetep berasa banget kan!

Sistem pajak Singapore masih paling mendingan kan? Padahal itu masih simulasi untuk medium income class, kalau karir kamu maju, otomatis kan pendapatan akan naik juga. Nah jomplangnya tingkat pajak antara Singapore dengan tiga negara di atas akan makin besar juga.

Ini yang buat ku cinta banget untuk kerja disini dibanding negara lain. Hasil kerja kerasmu tidak diambil oleh negara dalam jumlah yang sangat ekstrim.

TIPS: Jadi next time kalau dapat tawaran kerja, lihat faktor biaya hidupnya disana, lalu dari sistem perpajakannya juga. Jangan Cuma lihat dari nilai tawaran gajinya aja, Guys!

Yang mau tahu alasan-alasan lain kenapa ku memilih bekerja di Singapore? Cek disini

Hari Libur

Kalau di Indonesia hari libur paling lama adalah Hari Raya Idul Fitri, namun tidak halnya dengan Singapore. Disini yang mendominasi tanggal merah terpanjang adalah Chinese New Year holiday. Jadi hari liburnay berkebalikan dengan Indonesia.

Situasi Kerja

Kecepatan kerja disini awalnya membuatku kewalahan. Dengan budaya kerja di Indonesia yang alon alon asal kelakon, di Singapore para pekerjanya mengutamakan kecepatan dan kelakon. Tidak hanya dari segi pekerjaan, dari cara mereka makan juga cepat, jika dulu di tingkat SD kita diajarkan untuk mengunyah makanan 36 kali baru ditelan, rata-rata orang Singapore mungkin menguyah hanya 10 kali sebelum ditelan.

Cara mereka berjalan juga cepat. Kalau sedang di stasiun MRT, coba perhatikan betapa rushing nya mereka sehari-hari. Waktu masih menjadi turis dulu, akusering iseng komen : “Ngapain coba jalan buru-buru begitu, MRT kan tidak akan pernah habis. Nikmatin hidup sebentar lah.”

Sekarang, rasanya mau aku telan bulat-bulat perkataanku tersebut, aku pun telah menjelma menjadi pejalan cepat karena terbawa budaya dan arus. Budaya bahwa waktu adalah uang.

Kompetisi di Singapura sangat keras, sekali kamu tidak bisa catch-up dengan pekerjaan dan team mu, kamu totally out. Sering banget karyawan baru yang gagal pada masa probation. Kerja bagus saja tidak cukup, karena perusahaan melihat juga cara kamu berhubungan dengan orang lain. Tingkat IQ (Intelligence Quotient) harus seiiring dengan EQ (Emotional Quotient).

Percuma deh walaupun kamu pintar, jagoan di bidangmu tetapi kepribadian dan karaktermu tidak cemerlang, kamu akan susah untuk maju disini. Jadi tetap mau untuk terus belajar hal-hal baru dan fokus kepada bidangmu supaya bisa bertahan lama di sebuah perusahaan. Cari uang di Singapura itu gampang-gampang susah sebenarnya, asalkan kamu mau berkorban untuk melakukan usaha ekstra, pasti kamu bisa berhasil.

Mengenai kebiasaan tenaga kerja lokal, sebagian besar dari mereka tidak akan mau menerima pekerjaan di luar job description mereka. Misalnya, kalau mereka bekerja sebagai admin staff di sebuah company, tidak ada ceritanya mereka akan melakukan customer service. Admin ya admin doang, itu mindset mereka.

Justru itulah kesempatan kita sebagai tenaga kerja asing, yang punya prinsip : “adapt or die” untuk bisa berkembang. Salah satu rahasiaku untuk bisa bertahan hidup di sini adalah mengambil tanggung jawab sebanyak-banyaknya dari atasan.

"Gan, mau coba bantu lihat pembukuan tidak?" Mantan Bos-ku pernah bertanya.

"Ok Bos, boleh." biasanya kujawab seperti itu.

Apapun tanggung jawab baru, jawab boleh saja. Ambil. Anggap itu sebagai tantangan. In the end, tidak ada ruginya kok. It enhanced your ability to the next level. Dan itu berguna untuk karirmu di tingkat selanjutnya.

Kurang lebih begitu rasanya cari uang di Singapura ini.

Kalau kamu masih ada pertanyaan perihal cari uang di Singapura, bisa langsung tanyakan di kolom komen.

Atau langsung Tweet aku aja di twitterku @DirganFasa untuk quick response tentang cari uang di Singapura.

Ciao!


 

Dirgan Fasa Author
Dirgan founded Casa Fasa as a place to share inspiration from his travels and to inspire others to see our world. He now split his time between adventures abroad and adventures in the 9-5 workspace!
follow me
Please follow, share and like us:
RSS
Whatsapp
Follow by Email
GOOGLE
GOOGLE
YouTube
Pinterest
Pinterest
Instagram

16 thoughts on “Cari Uang Di Singapura, Gimana Sih Rasanya?

  • Reply Hendry Jonathan June 17, 2018 at 9:35 am

    Cool ko, kasih perbandingan sama pajak indo dong ko hehehhe

    • Reply Dirgan Fasa July 5, 2018 at 7:25 pm

      haha pajak Indo kurang tahu, harusnya sih Indo lebih gede ya

  • Reply Dyah June 18, 2018 at 9:36 am

    Bagus nih ceritanya. Lengkap dan detil. Harus dibaca buat yang pengin kerja ke luar negeri. Saya sih kerja di Jakarta dan semua konsep kerja yang baik juga berlaku kok. Kerja jaman sekarang nggak kenal santai di manapun juga. Yang penting ada waktu buat kerja dan ada waktu buat main-main. Good luck buat kerjanya yah.

    • Reply Dirgan Fasa July 5, 2018 at 7:28 pm

      Alo Dyah, salam kenal. Makasih ya sudah mampir hehe..
      Bener, konsep kerja yang baik berlaku di mana saja. Setuju banget.
      Good luck dan sukses untuk kamu juga 🙂

  • Reply Matius Teguh Nugroho June 19, 2018 at 11:22 am

    Mas, gue juga pengen banget kerja di negara-negara tetangga kayak Singapura, KL, Bangkok. In short, kota-kota yang lebih maju daripada kota-kota Indonesia, rapi, bersih, dan punya MRT, tapi dengan budaya sehari-hari yang mirip. Tapi gue ada 1 kendala nih soal ijazah haha.

    Kalau soal pergaulan dengan Singaporeans gimana, betulkah mereka individualis dan dingin?

    • Reply Dirgan Fasa July 5, 2018 at 7:30 pm

      Ijazah memang notabene mas jaman sekarang, walaupun jujur, nggak semua yg punya ijazah itu lebih baik daripada yang nggak punya.
      Tapi memang itulah kejamnya realita korporasi ya Mas. Huft.
      Tetap semangat dan berkarya mas!

      Pergaulan dengan Singaporean, ada yang individualis, ada yang nggak. Tapi menurutku adalah cara kita ngebawa diri kita aja gimana hehe

  • Reply Molly July 6, 2018 at 12:44 am

    Baru mampir ke sini dan suka sama konten blognya😍. Wah aku sampai takjub bacanya karena diulas sedetil ini. Hidup di Singapura yang sangat maju pasti ada enak dan ngganya ya, Ko. Persaingannya super ketat. Semua serba disiplin dan teratur. Kalau ngga sanggup ngikutin ritmenya, langsung tersingkir😥

    • Reply Dirgan Fasa July 6, 2018 at 11:31 am

      iya Kak, sangat kompetitif disini. Kecepatan kerjanya berasa banget. Tapi syukur deh sudah mulai bisa menyesuaikan hehe..
      Terima kasih ya sudah mampir dan meninggalkan sepatah kata 🙂

      • Reply Molly July 6, 2018 at 1:51 pm

        Iya ya, temenku cewe orang Medan juga kuliah di sana sampai sekarang juga kerja di Singapura sebagai tenaga akunting di perusahaan perkapalan bilang kalau orang-orang udah nyaris kayak robot. Dan akhir minggu mereka kelelahan. Kadang cari hiburan singkat di Batam atau JB. Syukurlah dirimu udah bisa menyesuaikan dengan ritme kerjanya, ya. Sukses buat karirmu, Ko☺.

        • Reply Dirgan Fasa July 6, 2018 at 1:54 pm

          Terima kasih banyak yaa.. Sama2 kita maju bareng hehe

          • Molly July 6, 2018 at 1:57 pm

            Hehehe siap, Ko😉

  • Reply Nia Nastiti July 6, 2018 at 7:46 am

    Keren nih beneran mewujudkan apa yang dipengenin tanpa banyak alasan. Sendiri bener lagi. Semoga banyak freshgrad yang pengen kerja di luar ikut termotivasi dan ga takut nyoba kerja di luar. Aku baru tau PPh Singapore sedemikian menguntungkan 😀

  • Reply Nia Nastiti July 6, 2018 at 7:49 am

    Menarik nih sharingnya, bisa jadi inspirasi dan motivasi buat fresh grad yang tertarik kerja di luar. Ada komparasi potongan pajak penghasilan juga. Baru tau potongan PPh sebagai pekerja si Singapore 2% aja untuk penghasilan segitu 🙂

    • Reply Dirgan Fasa July 6, 2018 at 11:32 am

      amin. semoga ya banyak yang termotivasi dan yang terpenting bisa membuka cakrawala berpikir ketika bekerja di luar negeri.
      Terima kasih sudah mampir, Nia 😀

  • Reply Gio | Disgiovery July 6, 2018 at 1:10 pm

    Artikel yang padat berisi, bener2 ngasih insightful berfaedah. Thanks for sharing, Gan! 🙂

    • Reply Dirgan Fasa July 6, 2018 at 1:53 pm

      makasih ya Gio.. Sukses selalu dan keep inspiring! 😀

Leave a Reply

close

Enjoy this blog? Viralkan :)