Arti Professional Photographer Menurut Saya

Reading Time: 4 minutes
Please follow, share and like us:
Instagram
YouTube
YouTube
Whatsapp
GOOGLE
GOOGLE
Follow by Email
Pinterest
Pinterest
RSS

Arti Professional Photographer Menurut Saya

Debat tentang definisi professional photographer adalah hal yang sensitif dan tidak pernah berakhir.

Bagaikan Canon vs Nikon, Mac vs PC, IOS vs Android, Messi vs Ronaldo, Pele vs Maradona, dll.

Saya pribadi tidak berani melabelkan diri saya sebagai “professional photographer”. Jika ada yang bertanya, saya hanya menjawab bahwa saya adalah fotografer.

Professional itu berhubungan erat dengan kata “profesi”. Dimana profesi itu menurut Oxford Dictionary adalah “A paid occupation, especially one that involves prolonged training and a formal qualification”.

Dalam Bahasa Indonesia-nya, bisa diterjemahkan sebagai pekerjaan yang dibayar, khususnya pekerjaan yang melalui pendidikan panjang dan kualifikasi formal.

Nah, sampai disini, pengertian dasar dari professional itu sudah jelas ya?

Belum lama ini, saya sempat melakukan posting di Instagram story saya yang menjangkau penggila foto di Indonesia. Jawabannya seperti yang saya duga.

Berikut adalah jawaban-jawaban yang muncul:

 

Jika dilihat seksama, sebagian besar dari jawaban-jawaban tersebut merunut kepada aspek penghasilan dari seorang fotografer professional.

Ijinkan saya beropini mengenai topik yang tidak pernah berujung ini melalui blogpost hari ini. Berikut adalah elemen-elemen untuk kamu disebut sebagai professional (tidak hanya di fotografi saja, tapi di semua bidang):

  1. PENGHASILAN (INCOME)

Fotografer Profesional

Menurut Washington Post pada bulan Juli 2019, definisi fotografer professional adalah seseorang yang memiliki total penghasilan dari aktivitas fotografi di atas 50%. Jadi kalau total penghasilan kamu 100 juta rupiah per tahun dan kamu mendapatkan 51 juta rupiah dari fotografi, SELAMAT!!!

Kamu adalah fotografer professional!

Sebuah definisi yang sangat sederhana. Jika hidup matinya mereka itu dari fotografi, maka mereka adalah seorang pro. Bukan begitu?

Namun ada sesuatu yang kurang dari definisi ini, yuk kita lihat ke elemen kedua

  1. SKILL dan KNOWLEDGE

Fotografer Profesional

Fotografer Profesional

Pernah lihat kan, fotografer amatir yang bisa menghasilkan karya yang lebih keren daripada fotografer full-time? Bukan hanya “pernah lihat”, saya bahkan sering lihat.

Jadi apakah fotografer amatir yang hasil foto-fotonya lebih bagus bisa dibilang lebih professional dari fotografer purna-waktu?

Tidak juga.

Professional adalah seseorang yang terus mengupgrade diri setiap harinya. Topik dan tingkat kreativitas yang bisa dipelajari dalam ilmu fotografi tidak pernah habis.

Professional bukan hanya sekedar skill dan knowledge, yang notabene bisa dipelajari seiring waktu. Professional lebih dari itu, yang membawa kita ke elemen selanjutnya.

  1. RECOGNITION (Pengakuan)

Fotografer Profesional

Seorang professional harus diakui oleh sebuah institusi dan fotografer-fotografer professional lainnya, baik dalam rupa penghargaan, eksibisi, gelar dan sejenisnya.

“Real recognize Real”.

  1. EGO dan KOMITMEN

Aspek ini yang sebenarnya paling practikal dan nyata dalam membedakan fotografer yang professional atau tidak. Disinilah garis batas yang sangat tebal antara pro dan bukan pro.

Fotografer Profesional

EGO

Fotografer professional tahu cara menekan ego kreatif mereka untuk memenuhi assignment dari klien yang mungkin membatasi ruang lingkup kreatifitasnya.

Manajemen ego bisa menentukan apakah klien-klien tersebut akan menggunakan jasa fotografimu lagi ke depannya atau tidak.

Kalau kamu tidak bisa bekerja sama memenuhi assignment, good luck with that!

KOMITMEN

Professional tidak bisa memilihi jenis project yang akan mereka handle dan kapan mereka harus melakukannya. Skill dan Teknik fotografi yang mutakhir tidak akan bisa membawa mereka melangkah jauh tanpa adanya komitmen.

Baik ketika mood mereka jelek, kurang tidur, sedang dilanda masalah, lelah, cuaca buruk; ketika waktunya untuk mulai sesi foto, mereka siap. Ini adalah permainan mental. Semua tentang komitmen. Dalam hidup kita, ketika kita komit terhadap sesuatu, hasilnya akan besar.

Fotografer professional bukan lagi hanya berkutat di area dangkal seperti skill, teknik dan gear. Mereka lebih focus kepada cara menyelesaikan misi fotografi mereka sesuai standarisasi klien dalam situasi apapun.

Dan mereka melakukan ini setiap saat setiap waktu. Saya yakin, mereka sempat sampai di suatu titik “jenuh” dan “bosan” melakukan hal yang sama setiap waktu, tapi mereka berhasil melampaui fase tersebut.

Pilihan mereka kala itu hanya : “leave it” or “keep going and evolve”.

 

  1. TANGGUNG JAWAB KEPADA KLIEN

Fotografer Profesional

Professional tidak bisa “kabur” dari kritik dan amarah. Ketika klien tidak puas dengan hasil yang muncul, professional photographer harus siap menerimanya dan merevisi.

Level ini sudah lebih dari sekedar level hobi cekrek-cekrek tombol shutter, edit, save, lalu post ke forum atau socmed demi sekedar likes atau pengakuan.

Tanggung jawab adalah ketika kita bisa memenuhi permintaan klien sesuai standarisasi mereka. Whatever it takes!

Tekanan ini yang bisa membentuk fotografer biasa menjadi fotografer professional.

Ingat: Happy Clients = Happy Business.

 

CONTOH KASUS:

Jika kita ambil contoh dalam dunia sepakbola, Bek Manchester United, Phil Jones. Dia mungkin bukan bek yang terhebat di Inggris. Dia lumayan sering membuat blunder dan kalah berduel dengan striker-striker dunia.

Tapi bagiku, dia adalah professional. Lebih professional daripada bule-bule di Singapura yang jago dan kuat dalam bermain di posisi yang sama dengannya.

Loh kok bisa?

Karena Phil Jones memenuhi semua elemen professionalisme di atas:

  1. Income:  Menghasilkan penghasilan dari sepakbola secara full-time
  2. Skill, Knowledge and Recognition : Bermain untuk Manchester United dan bisa bertahan disana bertahun-tahun membutuhkan kemampuan tersendiri. Dipercaya oleh pelatih seperti Sir Alex Ferguson, Van Gaal dan Mourinho merupakan pengakuan tersendiri.
  3. Ego & Komitmen : Phil bisa mengatur ego-nya jika dicadangkan atau dimarahi oleh pelatih, tidak berakting sok jago dan seenaknya sendiri. Komitmen untuk berlatih setiap hari bahkan mengorbankan liburan saat Natal dan Tahun Baru mengukuhkan profesionalismenya.
  4. Tanggung Jawab kepada Klien : Phil tidak kabur dari masalah ketika membuat blunder, ketika Manchester United kalah. Malahan dia terus mencoba improve di tengah kekurangannya demi tanggung jawab kepada fans dan klub.

Banyak Bek yang lebih jago dan skilful dengan sepatu sepakbola mahal daripada Phil Jones di pelosok dunia.

Namun apakah mereka lebih professional daripada Phil Jones?

CONCLUSION

Professional itu adalah label yang sangat berat untuk disematkan.

Professional itu adalah sebuah sikap. an attitude.  Professional adalah sebuah tingkah laku.  Professional adalah sebuah standar.

Menjadi seorang professional adalah bagaimana cara pendekatanmu kamu terhadap pekerjaanmu. Berapa banyak usaha yang kamu sumbangkan untuk terus mengedukasi dirimu tentang semua aspek fotografi dan memahami peralatan fotografimu. Tidak hanya di fase awal kamu memulai karier fotografimu, tetapi terus kontinu di seluruh karirmu.

Profesionalisme adalah jumlah latihan yang kamu tuangkan untuk memantapkan teknikmu, jumlah riset dan persiapan yang kamu lakukan sebelum sebuah sesi foto dimulai.

Profesionalisme adalah tentang standar yang selalu kamu jaga baik itu sebelum, saat dan sesudah proyek photoshoot.

Profesionalisme adalah follow-up yang kamu lakukan kepada klien-klienmu dan memastikan bahwa mereka senang dan puas denga kinerja dan hasil karyamu.

Profesionalisme ada dalam setiap hubungan yang kamu bangun dengan klienmu.

Ketika kamu sudah memenuhi semua elemen di atas, barulah kamu layak menyebut dirimu sendiri seorang professional photographer. Bukan, bukan berapa banyaknya CANON L-LENS atau SONY GM LENS yang kamu pakai. Bukan kamera MEDIUM FORMAT yang menentukan kamu seorang professional.

Bill Gates bisa dengan gampangnya membeli semua peralatan fotografer termahal di dunia dan membangun studio fotografi seluas Gelora Bung Karno. Apakah semua itu membuat dia menjadi professional photographer?

Tidak juga.

Bagimana dengan Saya?

Saat ini Saya adalah seorang fotografer yang memiliki spesialisasi di bidang portrait.

Titik.

Dirgan Fasa Administrator
Dirgan Fasa Dirgan founded Casa Fasa as a place to share inspiration from his travels and to inspire others to see our world. He now split his time between adventures abroad and adventures in the 9-5 workspace!
follow me
Please follow, share and like us:
Instagram
YouTube
YouTube
Whatsapp
GOOGLE
GOOGLE
Follow by Email
Pinterest
Pinterest
RSS

One thought on “Arti Professional Photographer Menurut Saya

Leave a Reply

close

Enjoy this blog? Viralkan :)