5 Hal Yang Kupelajari Dari 50 Sesi Fotografi Portrait Pertamaku

Reading Time: 4 minutes
Please follow, share and like us:
Instagram
YouTube
YouTube
Whatsapp
GOOGLE
GOOGLE
Follow by Email
Pinterest
Pinterest
RSS

5 Hal Yang Kupelajari Dari 50 Sesi Fotografi Portrait Pertamaku

Dari awal, tujuan utamaku menulis di blog ini adalah tentang berbagi pengetahuan, belajar dan berdiskusi dengan para pembaca semua. Aku ingin kita sama-sama bertumbuh setiap harinya, banyak cara memang untuk bertumbuh, dan aku berharap blog ini menjadi salah satu dari cara tersebut.

Setelah berbagi tentang arti dari fotografer profesional beberapa saat yang lalu.

Pengalaman kala sesi fotografi pertamaku masih berlari-lari jelas di pikiranku.

Tidak mudah memang saat semua bermula.

50 sesi foto kemudian, ketidakmudahan masih jelas terasa, namun ada di level yang berbeda.

Ketika di awal, kesukaran yang biasanya menghampiri lebih rasa khawatir dan ketidak-percayaan diri.

“Bisakah aku melakukannya?”

“Apakah hasilnya akan bagus?”

“Nanti harus pakai aperture berapa?”

“Cahaya-nya bagus nggak ya?”

Teka-teki seperti itu yang pasti muncul di kepalamu di fase awal sesi fotografi kamu walaupun hanya sekedar kolaborasi foto TFP (Time for Prints/Time For Portfolio).

Setelah 50 kali berlalu, pertanyaan-pertanyaan yang muncul akan berevolusi menjadi:

“Gimana ya caranya supaya komposisinya lebih baik lagi?”

“Aku mau pakai natural light aja atau mau dikombinasikan dengan artificial light?”

“Nanti klien mau nggak ya kuatur pose seperti ini?”

Kualitas keresahan dan pertanyaan-pertanyaanmu akan jauh lebih baik sejalan dengan banyaknya jumlah sesi fotografi yang kamu jalankan.

Hal pertama yang aku pahami setelah 50 photoshoots adalah : Kepribadianmu sebagai fotografer lebih berarti daripada hasil fotomu.

Bukan maksudnya kamu bisa foto asal-asalan juga.

Walaupun seorang fotografer dengan kualitas foto memukau tapi tidak bisa menyatu dengan klien, biasanya jarang meninggalkan kesan mendalam bagi klien tersebut.

Di lain sisi, fotografer yang bisa membuat sesi fotografi mereka menjadi sebuah experience bagi customer, biasanya fotografer tersebut yang lebih menjadi prioritas customer.

Hanya satu hal yang bisa dilakukan fotografer super skilful yang kepribadiannya kurang disukai oleh klien, mereka hanya mampu membuat klien setuju bahwa hasil karya mereka keren. That’s it.

Cuma sebatas hasil potret mereka saja.

Sedangkan kalau fotografer yang memiliki kepribadian asyik, ketika klien melihat hasil foto mereka, tidak hanya sekedar melihat sebuah karya, tapi sebuah pengalaman. Betapa mereka memiliki fun time together saat photoshoot bersama, semudah apa si fotografer menyalakan api kegembiraan saat sesi tersebut, dll.

Inilah yang akan membuat para klien memprioritaskan fotografer tersebut untuk event-event besar mereka selanjutnya.

Jadi jangan cuma melatih skill fotografimu saja, tapi bangun juga sisi personalmu.

Bingung caranya membangun sisi personalmu?

Email aku saja, nanti kita diskusi.

Kedua, Bokeh is Overated.

Keputusan yang paling kusyukuri adalah tidak menginvestasikan uang di lensa-lensa mahal dengan aperture lebar seperti f1.4 atau f1.2 (memang Sony belum mengeluarkan lensa dengan aperture f1.2, namun seandainya benar terjadi, harganya tidak akan kurang dari USD 1,000).

Pilihanku selalu jatuh di f1.8, yang mana secara bokeh, tidak telalu jauh dengan f1.4. Tapi secara harga, bedanya itu WOW!

Lensa 85mm f1.8 Sony FE “hanya” seharga  USD 599. Sedangkan lensa 85mm f1.4 Sony GM dibandrol di angka USD 1,798!! Bedanya Tiga kali lipat!!

Masalahnya, apakah kualitas bokeh yang dihasilkanlensa dengan bukaan f1.4 juga lebih baik tiga kali lipat dari yang f1.8?

Aku sih agak ragu akan hal ini.

Dan yang paling penting adalah seberapa besar klien-klienku mengapresiasi arti sebuah “bokeh”.

Bokeh mungkin sekedar menjadi obsesiku pribadi, bukan obsesi para klienku. Selama aku bisa memenuhi standar objektif dari assignment mereka, THAT’S IT!

You’ve done your job and fulfill the standard.

Bokeh is just a cherry on top.

Which sometimes can be necessary for a specific clients with specific needs.

PERSIAPAN ADALAH SEGALANYA, ini merupakan hal ketiga yang kupelajari dari lima puluh photoshoots yang sudah kutuntaskan.

Tanpa persiapan yang cukup, hasil fotomu tidak akan maksimal.

Pada akhirnya, kamu hanya akan melahirkan deretan imaji tanpa jiwa. Dan pelangganmu pun akan cepat mencium ke-tidak benaran yang terjadi.

Lakukan riset terhadap lokasi photoshoot, latar belakang klienmu, dan apa yang menjadi prioritas mereka. Hal ini sangat-sangat esensial. Karena itu akan membawamu kepada pengaturan pose yang tepat dan pemilihan lokasi yang pas untuk klien tersebut.

Jangan anggap remeh, selalu periksa lagi baterai kameramu, apakah sudah fully charged? Jangan jadi orang tolol saat assignment dikarenakan kehabisan baterai dan tidak ada backup baterai juga.

Apakah kapasitas memory card-mu cukup untuk menyimpan sesi foto tersebut?

Investasi untuk Memory Card dan Baterai adalah prioritas utamaku.

Setiap pembayaran yang kuterima, tidak terpikir untuk membeli lensa baru. Aku lebih memilih untuk melengkapi line-up Memory Card-ku dan ekstra baterai.

Yang keempat adalah : Be The Authority of your Area.

Boleh dibilang aku tidak pernah libur di hari Sabtu Minggu. Walaupun sedang tidak ada assignment, aku tetap melakukan survey terhadap tempat-tempat pilihan customer.

Tujuannya untuk mengkreasikan sebuah karya yang berbeda dari fotografer lain.

Tempat-tempat yang selalu ditunjuk oleh sebagian besar klien, seperti CHIJMES, Gardens By The Bay, Marina Bay Sands juga Haji Lane dan sekitarnya sudah menjadi santapanku.

Setiap spot menarik di lokasi tersebut sudah ada di luar kepalaku. Waktu terbaik untuk memotret, cara mengatasi matahari terik dan mengambil foto yang tetap oke, Lokasi-lokasi non-touristy di sebuah area.

Percaya padaku, usaha tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Jika pada suatu titik klienmu mengatakan : “Wah kamu sepertinya sudah hafal ya tempat-tempat bagus disini. Kamu aturkan saja, kami percaya padamu.”

Artinya, kamu sudah menjadi seorang otoritas di area fotografimu.

Menjadi pendengar yang aktif adalah pelajaran terakhir setelah 50 photoshoots yang kurangkum di topik ini.

Kebiasaanku sesudah menyelesaikan sebuah segmen fotografi adalah memberikan kameraku kepada klien supaya mereka bisa melihat hasil foto yang kujepret.

Dengarkan pendapat mereka, karena sebagai fotografer, apa yang kita lihat dan bayangkan belum tentu linear dengan apa yang klien inginkan.

Bukan berarti aku akan mengikuti semua masukan dari klien, karena pada akhirnya, kita adalah fotografernya. Kita dipilih oleh klien berdasarkan kesukaan mereka atas portfolio yang kita buat.

Sedikit improvisasi tidak akan merusak idealisme-mu sebagai fotografer, coba temukan keseimbangan antara visi yang kamu punyai dan klienmu.

View this post on Instagram

[COUPLE WEDDING PHOTOGRAPHY] . Mereka datang dari Jerman untuk meresmikan hubungan mereka di Singapura . Mega sepertinya punya memori tersendiri tentang Merlion, si Singa Duyung yang menjadi simbol Singapura puluhan tahun lamanya . Mereka merupakan salah satu pasangan favoritku sebagai klien. Mereka melihat lebih dari sekedar "Harga". Mereka melihat "Value" yang kami bawa . Bukan hanya daftar paket "jumlah foto yang bisa di-download" namun mereka menghargai service, waktu, cara kami membina hubungan dengan mereka lebih dari sebatas klien . Cari private photographer di Singapura yang lebih dari sekedar booking dari aplikasi? Cari vacation photographer di Singapura yang memberikan experience lebih dari sekedar motret? . Di WA aja : +65 91390397 . #singaporephotographer #singaporeforeveryone #photographersingapore #singaporefamilyphotographer #singaporephotography #iluvsg #sgig #specialmoments #singaporeig #singaporefamilyphotography #keluargaindonesia #fotokeluarga #sweetescape #sweetescapesingapore #indonesiantraveler #motoyuk #fotokitaid #indonesiatraveler #singaporecouple #singaporepostwedding #singaporematernityphotographer #singaporevacation #sgcouplephotoshoot #couplephotoshoot #singaporeholiday #holidayphotographer #privatephotographer

A post shared by Singapore Photographer (@dirganfasapixels) on

Nah, semua itu adalah 5 hal yang kudapatkan selama 50 sesi fotografi pertamaku. Baik dari paid assignments, TFP, dan memotret strangers.

Targetkan 1 photoshoot selama seminggu, setahun kamu akan memiliki 52 kali sesi fotografi. Di tahun kedua, kemampuanmu akan berlangsung pesat!

Aku tidak bisa menghindari proses belajar ini karena semuanya sangat kuperlukan untuk perkembanganku selanjutnya. Begitu juga dengan kamu.

Jadi apa yang kamu pelajari sejauh ini saat melaksanakan sesi fotografi kamu?

Share di komen ya, kita diskusi.

Dirgan Fasa Administrator
Dirgan Fasa Dirgan founded Casa Fasa as a place to share inspiration from his travels and to inspire others to see our world. He now split his time between adventures abroad and adventures in the 9-5 workspace!
follow me
Please follow, share and like us:
Instagram
YouTube
YouTube
Whatsapp
GOOGLE
GOOGLE
Follow by Email
Pinterest
Pinterest
RSS

Leave a Reply

close

Enjoy this blog? Viralkan :)